Selasa, 15 Januari 2019

AUTISME



TIDAK BIASA YANG LUAR BIASA
 Oleh : Namira Nurushobah

Gambar 1. https://raisingchildren.net.au
 

Saat ini, mungkin kita sudah sering melihat anak sebagai pengidap autisme. Tidak jarang juga kita melihat orang yang memandang anak autis dengan sebelah mata. Menganggap mereka sebagai anak yang aneh, memiliki dunianya sendiri, atau bahkan merasa bahwa anak autis tidak dapat memiliki masa depan yang cerah layaknya anak normal pada umumnya.

Sebelum membahas mengenai autisme secara lebih lanjut, mari kita cari tahu apa itu autisme (?)
Autis atau autisme merupakan salah satu dari lima tipe gangguan perkembangan pervasif atau PDD (Pervasive Development Disorders), yang ditandai dengan adanya ke-abnormalan pada domain interaksi sosial dan komunikasi. Autisme ini adalah tipe yang paling populer diantara kasus PDD lainnya (sindrom asperger, gangguan disintegrasi masa kanak-kanak, sindrom rett, dan pervasive development disordernot otherwise specified [PDD-NOS]). Autisme lebih mengacu pada masalah dengan interaksi sosial, komunikasi, dan bermain imajinatif yang mana muncul pada anak sebelum menginjak usia 3 tahun.

Prevalensi autisme itu sendiri sekitar 1-2 per 1000 individu dengan jumlah laki-laki sekitar empat kali lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Jumlah ini meningkat secara drastis sejak tahun 1980-an. Sebenarnya hal ini disebabkan oleh adanya perubahan dalam praktik diagnosis. Sehingga muncul pertanyaan, “apakah peningkatan prevalensi autisme ini benar adanya?” Pertanyaan ini belum dapat dijawab dengan jawaban yang pasti.


          Autisme itu sendiri sejatinya bukan suatu penyakit, kerapuhan, maupun gangguan kejiwaan, sehingga ini merupakan hal yang tidak benar jika kita menyebut anak dengan autisme sebagai penderita autisme. Karena sesungguhnya mereka tidak sedang menderita. Akan lebih baik jika kita menyebut mereka sebagai individu yang autistik.

Anak yang autis mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Mereka merasa bahwa mengungkapkan kata-kata yang ingin mereka ucapkan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Begitu pula saat kita berbicara dengan mereka, mereka bisa jadi tidak mengerti sama sekali apa yang telah kita ucapkan kepadanya. Hal ini disebakan karena biasanya mereka hanya menafsirkan kata demi kata yang kita ucapkan, tidak dalam bentuk satu kalimat yang utuh.
Begitupun juga saat anak autis yang biasanya tidak suka dengan adanya perubahan-perubahan kecil di dalam rutinitas kesehariannya. Bahkan perubahan kecil pun, contohnya dengan warna gelas yang mereka gunakan. Jika mereka dalam kesehariannya menggunakan gelas berwarna hijau, ini akan menjadi suatu masalah jika tiba-tiba gelas tersebut diganti menjadi gelas berwarna ungu atau warna selain hijau.

Namun, kasus autisme ini sendiri tentu saja sangat berbeda dengan keterbelakangan mental, yang mana memiliki ciri dengan kurangnya atau hampir tak ada perkembangan pada keterampilannya. Kerena sesungguhnya, anak autis dapat menunjukkan perkembangan kemampuan dalam keterampilannya masing-masing. Mereka bisa saja bermasalah pada suatu bidang, seperti berkomunikasi. Tetapi mereka bisa saja memiliki keterampilan yang sangat hebat di bidang lainnya, seperti contohnya dalam hal seni, matematika, dan mengingat hal-hal detail.

Setelah tadi kita mengetahui apa itu autisme secara umum, mari kita bahas lebih lanjut mengenai apa yang ada di dalam otak anak-anak dengan autisme:

Parietal lobe
Berfungsi sebagai pemantau segala informasi dari mata, kepala, dan bagian tubuh untuk kemudian dilanjutkan ke bagian otak lainnya yang mengatur gerakan tubuh, pada anak autis memiliki kerusakan, sehingga biasanya anak autis sulit untuk mengkoordinasikan gerak motoriknya.
Ditemukan juga kelainan frontal lobe (prefrontal cortex) pada anak autis. Oleh karena itu biasanya anak autis lebih bersikap impulsif, hal ini disebabkan karena frontal lobe itu sendiri berfungsi untuk mengatur penundaan suatu perilaku tertentu.

Masalah Bahasa
Dalam masalah bahasa, anak autis mengalami gangguan pada broca dan wernicke. Broca berfungsi dalam hal pebendaharaan kata yang ditangkap, sehingga anak autis sulit untuk menangkap informasi dari orang lain. Selain itu, gangguan pada wernicke mengakibatkan kesulitan dalam berbicara, berbahasa, menamai benda, dan lain-lain.

Sistem Emosi Manusia 
Pada sistem emosi manusia yang mana diatur di dalam sistem limbik ini pun ditemukan penurunan ukuran sel neuron pada anak autis. Hal ini akan berdampak pada sulitnya anak autis untuk bersosialisasi dengan orang lain, menaruh perhatian lebih, hingga bermain dengan simbol.

Jadi itu dia penjelasan lebih lanjut mengenai autisme. Di samping kekurangan-kekurangan mereka, terdapat keunggulan yang luar biasa dari mereka yang bahkan orang-orang biasa tidak bisa melakukannya! Sehingga dapat kita ketahui bahwa, ternyata autisme itu memang sebuah ketidakbiasaan yang sangatlah luar biasa.



Referensi:

Daulay, Nurussakinah. (2017). Struktur Otak dan Keberfungsiannya pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autis: Kajian Neuropsikologi. Buletin Psikologi, 25 (1), 11-25.
Priyatna, Andri. (2010). Amazing autism!. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

 Terimakasih
Salam Pergerakan!


Writer :  Namira Nurushobah
Proofreader :  Zein Chandra            



Penulis adalah anggota sekaligus pengurus dari PMII Rayon Pancasila, Komisariat Brawijaya.
  _________________________________________________________________________________
     Situs Resmi | Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Pancasila
Komisariat Brawijaya | Dikelola oleh Lembaga Pers Mahasiswa Gooder.id PMII Rayon Pancasila 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar