Rabu, 19 Desember 2018

Mahasiswa dan Tulisannya

MAHASISWA DAN TULISANNYA
Bagian 1
“Menulis adalah Sederhana: Karena Terpaksa (?)”

Peran mahasiswa salah satnya agent of chance. Agen perubahan dampak agent of chance perubahan, perubahan ini salah satunya adalah melalui tulisan. Karena menulis adalah kewajiban sebagai mahasiswa. Sayyid Quthb seorang ilmuwan Mesir pernah mengatakan bahwa satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, namun dengan tulisan bisa menembus jutaan kepala.
Tulisan memiliki banyak pemaknaan. Sebuah tulisan perlu memiliki mutu yang baik agar bisa membuat orang lain yang membaca memahami tentang makna dari sebuah tulisan yang diuanggahnya dalam berbagai bentuk media yang digunakan.
Contoh sederhana adalah sebagai berikut: “Banjir yang datang di kota”. Mahasiswa yang melihat peristiwa tersebut bisa menuliskan kejadian dalam bentuk warta yang dimuat didalam koran, situs online maupun buletin, sehingga ada kemungkinan untuk masyarakat berubah dengan membuang sampah pada tempatnya karena mereka mengetahui tentang dampak buruk dari adanya pembuangan sampah sembarangan. Contoh lain yaitu budaya titip absesn, jadi di kampus kita sadar bahwa kita korupsi, dengan banyaknya budaya itu kita sama dengan koruptor dalam skala kecil. Seharusnya kita merubah mental dari orang tersebut. agar perbuatannya tidak terulang kembali. dengan membuat poster yang ditempel TA sama dengan korupsi. Tujannya membuat sadar mahasiswa yang melakukan korupsi laten melalui TA.
Dalam diskusi yang sama, Sanka (2018) memberi tambahan bahwa tidak banyak mahasiswa yang bisa berbicara langsung, oleh karenanya tulisan bisa menjadi alternatif bagi mereka. Namun tulisan dan brosur banyak dihiraukan. Mereka yang menghiraukan cukup tahu bahwa ada poster, lebih baik menggunakan brosur dengan timeline yang membuat panasaran. Agar mahasiswa membaca dan secara tidak langsung audiens bisa tahu bahwa tema yang disampaikan oleh pembuat kampanye sosial itu berjalan baik.
Kalau membuat tulisan, sebenarnya banyak mahasiswa yang bisa menulis. Namun dalam publikasikannya masih ragu, takut kalau tidak cocok. Sehingga tulisan tersebut tidak penrnah dipublikasikan, hanya berhenti pada konsumsi pribadi. Sanka pun menambahi bahwa dalam menyikapi cara mereka untuk bisa menulis, sebenarnya mahasiswa dengan tidak sadar tugas-tugas untuk banyak yang ditulis. Review jurnal, resume agenda, maupun penelitian ilmiah. Tanpa sadar mahasiwa terpaksa untuk menulis. Dan nantinya bisa dilihat dari skripsinya, bagaimana hasil bimbingan dosen mahasiswa yang jarang menulis dan mereka tepaksa menulis. Kalaupun mereka hanya copy paste, bobotnya pun akan terlihat (Wahyu, 2018).
Rimba dan Dio (2018) pun memaparkan pendapat yang sama, “Mahasiswa dipaksa dosen untuk menulis itu efektif”. Karena tuntutan tugas dan deadline, sehingga mereka menulis untuk satu minggu. Dengan deadline yang mepet dan harus benar, karena akalau tidak maka nilainya buruk. Jika memasuki kuliah mahasiswa dipaksa untuk menulis: Jika tidak dipaksa, mahasiswa tidak akan menulis. Hal itu karena kurangnya kesadaran akan menulis. Intensitas mahasiswa menulis adalah karena keterpaksaan. Bila tidak dipaksa maka mereka akan lalai mengenai kewajiban menulis.
-Bersambung


Editor                 : Zein Chandra
Pengisi Narasi   : Rahmat Rimba S.
      Sanka
      Wahyu Bagus
      Revan Dio

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar