Kamis, 09 November 2017

Review Buku:Kebenaran yang Hilang



oleh Mila Norhaniva



Kebenaran yang Hilang adalah buku karya Farag Fouda, seorang warga Mesir pengkritik islamis yang dibunuh dengan ditembak karena dianggap telah murtad dan mengolok-olok ajaran Islam. Dengan menggunakan sampul yang sederhana dengan beberapa kutipan, namun cukup menjelaskan apa isi buku ini. Faraq Fouda memilih topik ini, karena ia merasa penting untuk mengungkapkan kebenaran sejarah besar yang selama ini tertutup dan hanya diketahui oleh segelintir orang saja.
Buku kebenaran yang Hilang menceritakan tentang “Sisi kelam praktik politik dan Kekuasaan dalam Sejarah Kaum Muslim”. Seperti kutipan awalnya buku ini berisi sejarah yang tidak terungkapkan pada masa era kekhalifahan umat Islam, dimulai era al-Khulafa’ al-Rasyidun sampai era Abbasiyah.
Pertama Faraq Fouda lebih cenderung mengkritik tentang negara dan agama. Menurutnya negara dan agama itu harus dipisahkan, karena keduanya adalah urusan yang berbeda, dan hasilnya pun banyak terjadi kontroversi di dalam penyelesaian masalah politik, negara maupun sosial. Banyak masalah yang belum muncul pada zaman ajaran syariat itu muncul, seperti aturan tentang bunga bank, dan yang paling kentara adalah hak perempuan untuk berkarir. Jika sebuah negera menganut syariat secara penuh maka negara tersebut akan mengeluarkan larangan bagi perempuan untuk bekerja, namun hal ini sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman yang ada sekarang, pelarangan perempuan untuk berkarir dan keluar rumah akan berbenturan terhadap hak asasi tiap manusia yang membebaskan melakukan apapun selama tidak mengganggu hak asasi orang lain. Tetapi, jika kita mengemukakan pendapat tentang perubahan pelarangan perempuan untuk berkarir, maka pemimpin yang mengaku-ngaku menjunjung tinggi syariat Islam itu, akan mencap kita sebagai orang kafir. Selain itu, jika kita melakukan pembenaran terhadap peraturan yang sebenarnya kaku dan tidak mendorong suatu masalah bisa selesai maka kita akan terus mengalami penekanan dan dianggap sebagai kafir maupun murtad. Padahal, para penganut syariat Islam untuk negara tidak menegakkannya secara benar, mereka hanya mencari jembatan agar bisa memperoleh kursi kekuasaan dari rakyat yang memang mayoritas adalah umat Islam. Mereka menggunakan ajaran Islam sebagai alat untuk merayu dan berjanji manis kepada rakyat, padahal jika mereka dihadapkan kepada masalah negara yang semakin lama semakin rumit maka mereka sendiri akan kebingungan, alih-alih mereka akan menyelesaikan masalah, justru mereka akan berdebat satu sama lain demi memaksakan kehendak mereka masing-masing. Menolak demokrasi karena dianggap akan merusak kedaulatan Tuhan, karena rakyat dapat merusak isi kitab suci apabila diberi kebebasan berpendapat, sungguh alasan yang aneh hanya demi mendapatkan kekuasaan yang otoriter mengatasnamakan syariat Islam.
Pembahasan kedua adalah sejarah al-Khulafa’ al-Rasyidun, pada masa ini umat Islam dipimpin oleh empat sahabat nabi secara berurutan, yaitu dimulai Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Kebanyakan orang menganggap kepemimpinan mereka adalah zaman keemasan, tapi tidak begitu banyak orang tau, bahkan sebenarnya banyak sesuatu yang dianggap melanggar, tetapi kebenaran itu tidak terungkap secara benar. Setiap kepemimpinan mereka memiliki karakter kepemimpinan sendiri. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar yang paling difokuskan adalah peperangan. Salah satunya adalah peperangan dengan orang-orang di Semenanjung Arabia yang dianggap murtad karena tidak membayar zakat, tetapi ada hal yang perlu diperhatikan, mereka bukanlah tidak mau membayar pajak tetapi mereka membayar pajak secara langsung kepada orang yang berhak dan tidak melalui pemimpinnya, bahkan Umar sudah memperingatkan bahwa mereka sebenarnya tidak murtad dan tetap menjalankan kewajibannya sebagai umat Islam. Selanjutnya adalah masa kepemimpinan Umar. Kebanyakan orang mengatakan bahwa saat kepemimpinan Umar adalah zaman keemasan, karena Umar adalah seorang negarawan dan juga agamawan yang mampu mengatur negara dengan baik, tetapi bukan berarti Umar tidak membuat kesalahan di masa kepemimpinannya, bedanya ia langsung dengan cepat menyadari dan membenarkan kembali kesalahannya. Pada era kepemimpinan Usman terjadi pemberontakan besar-besaran yang dilakukan umat Islam untuk menuntut Usman agar turun dari jabatannya, tetapi Ia tetap bersikukuh mempertahankan posisinya padahal rakyatnya sudah tidak lagi menerimanya sebagai pemimpin karena dianggap tidak mampu. Usman menganggap bahwa mandat kepemimpinan diberikan oleh Allah dan tidak bisa diambil kembali, hingga berujung pada kematiannya ditangan umat Islam sendiri. Kepemimpinan Ali sama seperti kepemimpinan Abu Bakar, lebih memfokuskan kepada peperangan untuk memperluas invansi Islam. Di dalam era ini pernah terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh Umar saat menghukum orang yang mencuri, ia tidak menghukum orang tersebut, dikarenakan keadaannya dalam keterpaksaan dan kelaparan, lalu ia melanggar apa yang ada di dalam Al-Quran dan memberikan ampunan kepada orang tersebut. Hal ini menunjukkan kepemimpinan Umar tidak lah keras, ia berani mengambil resiko dengan melanggaran aturan dalam Al-Quran sesuai kondisi yang ada, menurut saya hal ini tidak dapat disalahkan, karena orang tersebut mencuri tanpa kesengajaan, dan karena tekanan hidup yang tengah ia alami. Namun saat ini banyak orang yang tetap bersikukuh melakukan hukuman kepada orang yang tidak sepenuhnya bersalah dengan mengatasnamakan ajaran Islam, bukankah seharusnya Islam itu bisa toleran seperti apa yang dilakukan oleh Umar dengan melihat keadaan yang ada.
Pembahasan selanjutnya adalah era Ummayah, dimana invasi Islam lebih berkembang pada saat ini. Perkembangan tidak hanya dalam lingkungan politik, namun pada lingkungan sastra dan kreativitas masyarakat telah mengalami kenaikan yang signifikan. Mengapa kemajuan ini bisa terjadi? Karena pada era ini para khalifah telah membedakan antara negara dan agama, sehingga mereka memimpin benar-benar berdasarkan keadaan negara, bukan karena tergantung dengan syariat Islam. Khalifah yang ada pun adalah negarawan yang baik, memimpin berdasarkan skill kepemimpinan yang mereka miliki tanpa pengaruh syariat Islam. Rakyat lebih bebas dalam menentukan kreativitas diri, sehingga mereka bisa menghasilkan karya tanpa harus takut akan dihukum karena karyanya menyalahi aturan agama. Meskipun demikian pada masa Ummayah ini, pertumpahan darah untuk mendapatkan kekuasaan tidak dapat terelakkan, pemberontakan banyak terjadi oleh pemuka negara yang lain. Dengan demikian, seluruh era yang ada tidak selalu mengalami kebaikan saja, tetapi pasti ada keburukannya.

Pada dasarnya Islam itu bukanlah agama untuk negara. Tidak bisa mencampurkan antara syariat dan politik, karena keduanya akan selalu bertentangan, politik tidak bisa lepas dari taktik yang terkadang curang dan dimata agama bisa saja salah, jika politik dan negara tetap terikat oleh syariat, maka suatu negara tersebut akan mengalami kerancuan dan akan susah untuk berkembang lebih lanjut. Maka seharusnya antara agama dan negara harusnya berkembang secara selaras dalam bidangnya masing-masing.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya angkatan 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar