Kamis, 30 November 2017

Mediatisasi Politik: Suksesnya Soekarwo dalam Pilgub Jatim



oleh Alif Perdana 



“Kebebasan media sebagai salah satu pilar demokrasi sangat penting, tapi harus disertai dengan tanggung jawab dan profesionalisme. Kebebasan media tidak absolut, harus menghormati hak mayoritas dan minoritas, agar tidak melahirkan anarkisme”.
-Dr. Nurhayati Ali Assegaf
Iklim demokrasi pasca orde baru semakin membawa angin segar terhadap mudahnya akses media. Media seakan menjadi sebuah makanan sehari-hari oleh publik—terutama media televisi, media offline, dan media cetak—dalam sebuah media masa didalamnya terkandung muatan ideologis. Selain muatan ideologis, media juga membawa unsur lain seperti politis, ekonomi, komunikasi, aspek sosial, serta aspek kultural. Media di Indonesia juga sebagai penyokong demokrasi, selain eksekutif, yudikatif dan legisatif[1]. Masuknya media sebagai pilar demokrasi dimulai sejak Indonesia berganti dari demokrasi terpimpin menjadi demokrasi pancasila. Posisi media sebagai lembaga pers yang menyokong pilar demokrasi semakin menguatkan proses demokratisasi, dengan fungsi media sebagai kontrol sosial terhadap pemerintah dalam setiap regulasi yang dikeluarkan. Dengan menjalankan fungsinya tersebut keberadaan media sebagai penguat demokrasi juga dijamin dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Di era mediatisasi[2]—proses dimana institusi dan aktor politik semakin bergantung dan dibentuk oleh media—banyak aktor politik yang menggunakan media dalam menaikan populitas politiknya. Aktor politik banyak menggunakan media masa sebagai alat untuk berkampanye dan berkomuniksi dengan masyarakat(selanjutnya disebut komunikan). Aktor politik menggunakan media offline seperti benner, poster, dan sticker untuk berkomunikasi dengan komunikan. Hal ini juga dimanfaatkan oleh Dr. H. Soekarwo SH. MHum. dalam pencalonannya sebagai calon Gubernur Jawa Timur putaran periode 2008. Soekarwo sangat baik dalam proses berkomunikasi politik dengan komunikan. Ini bisa dilihat dari cara-cara Soekarwo berkampanye, cara dia menyampaikan apa yang akan dia bawa sebagai Visi/Misinya. Soekarwo sangat masif  menggunakan media masa, beliau banyak menggunakan benner, spanduk, dan iklan sebagai alat komunikasinya, hal ini dirasa cukup efektif mensosialisasikan tujuan dan membentuk konsktruk sosial akan sosok figur Soekarwo.
Menampakkan sosok figur yang diharapkan masyarakat adalah cara yang jitu dan dirasa cerdas yang digunakan oleh Soekarwo dalam pencalonannya sebagai Gubernur Jawa Timur putaran 2008. Soekarwo mampu menganalis apa yang menjadi kelebihannya sebagai salah satu calon dari Gubernur Jawa Timur. Kita masih ingat bahwa Soekarwo menggunakan jargon “Coblos Brengose”, “Peduli Rakyat Kecil” adalah jargon yang menjadi khas Soekarwo bersama pasangannya Gus Ipul. Jargon yang dibawakan Soekarwo dan Gus Ipul menunjukan dan merepresentasikan karakter serta menunjukkan seacara tidak langsung bahwa calon ini adalah orang yang sangat peduli terhadap orang miskin, rakyat yang berpenghasilan rendah, serta rakyat yang kurang mampu dalam segi finansial. Lantas jargon ini dimasifkan dengan komunikasi masa. Komunikasi masa ini menurut Donald K. Robert komunikasi masa ini dapat menyebabkan perubahan perilaku manusia—bagaimana manusia yang semula tidak mengenal dapat menjadi sangat tahu akan figur, komunikasi masa ini akan membentuk konstruk sosial saat media sangat masif diberikan terhadap masyarakat. Konstruksi sosial oleh komkunikasi masa ini menyebabkan masyarakat akan selalu mengingat dan apa yang diingat dari jargon “Coblos Brengose” dan “Peduli Rakyat Kecil” adalah pasngan Soekarwo dan Gus Ipul.
Soekarwo tidak hanya menggunakan jargon dalam masa pencalonannya dalam pemilihan gubernur Jawa Timur. Soekarwo juga membuat panggilan akrab atas dirinya. Soekarwo mulai me”marketing” dirinya sebagai calon Gubernur semenjak jauh sebelum beliau berencana mencalonkan diri. Soekarwo menggunakan istilah “pak de”—dalam istilah jawa istilah “pak de” memiliki makna konotasi yang positif—yang bermakna orang yang dihormati, lebih sebagai panutan, dan seacara sosiologis adalah anggota keluarga yang dijadikan tempat untuk berkonsultasi[3]. Selain makna konotasi yang positif panggilan “pak de” merupakan istilah yang tidak baru lagi bagi masyarakat, akrab ditelinga dan sangat mudah diucapkan[4]. Dalam me”marketing” dirinya Soekarwo jelas sangat terlihat bahwa Soekarwo sangat cerdas dalam menggunakan media serta pemasaran politik.
Berperannya media sebagai penyokong demokrasi membuat media semakin mempunyai peran dan fungsi yang sangat vital dalam proses demokrartisasi. Dalam konteks politik, dampak mediatisasi ini telah memperlihatkan kita bahwa media telah berkuasa dalam melancarkan agenda politis, dan mengolahnya menjadi suatu yang bisa diterima masyarakat. Media dan lembaga pers sudah menjadi alat propaganda yang efektif  dalam era demokrasi sekarang. Pemanfaatan media diharapakan tidak hanya sebagai makna yang politis namun harus tetap mengandung unsur kepentingan publik. Tujuan utama media adalah bagaimana media bisa menjadi control kekuasaan serta berorientasi terhadap masyarakat.
Media sebagai watchdog terhadap kekuasaan, media tidak boleh lagi berorientasi terhadap profit ataupun kepentingan sekelompok elite. Memanfaatkan media sebagai alat politik adalah hal yang baik. Tapi memanfaatkan publik lewat media sebagai kepentingan politik adalah hal yang sangat salah dan tidak bertanggung jawab. Media harus benar-benar mencerminkan demokrasi itu sendiri. Independensi media tidak boleh lebur atas pemanfaatan media sebagai alat politik. Media juga harus selalu dekat terhadap masyarakat.


Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya angkatan 2016


[1] Iswandi Syahputra. 2013. REZIM MEDIA Pergulatan Demokrasi, Jurnalisme, dan Infotainment dalam Industri Televisi. Jakarta. PT Gramedia Pustaka Utama Anggota IKAPI. Hlm: 6
[2] Yovantara Arief dan Wisnu Prasetya Utomo. 2015. ORDE MEDIA Kajian Televisi dan Media di Indonesia Pasca-Orde Baru. Yogyakarta. INSISTPress dan Remotivi. Hlm: 51

[3] Yudi Sutarso. 2008. Pak De Karwo : Marketing dalam Politik. https://ysutarso.wordpress.com/2008/09/09/pak-de-karwo-marketing-dalam-politik/. Pada tanggal 7 september 2017.

[4] Ibid. Yudi Sutarso. 200

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar