Minggu, 15 Oktober 2017

Negeri-ku


oleh Alif Perdana 
Sumber gambar https://www.merdeka.com/foto/peristiwa/382222/20140613200017-aksi-jokowi-ngobrol-dengan-petani-di-tengah-sawah-001-isn.html


Menunggu hujan dikalang pandang.
Merajut asa dikala senja.

Menemanimu, diantara beribu terik.
Menghujam deras bak ombak diujung karang.

Antara jarak dan waktu.
Sedikit celah untuk bisa bertemu.
Sesempit ruang di antara tumpukan buku.

Terbesit ingatan, diantara dialog sore.
Cerita kecilmu tentang revolusi negeri.
Membangun ingatan akan kerinduan hidup.
Hidup diantara manusia-manusia yang memanusiakan.
Terkagum bagaimana humanisnya tekad feminismu.

Bersyukur tak akan membuat hidupmu lebih baik
dari ribuan insan bertopi hitam.
Bergumam diantara perdu tak akan membuat mesin-mesin berhenti berdengung.
Bersembunyi di ketek-ketek kemaruk materi, juga tidak akan membuat matahari berhenti, katamu.

Ini keringatmu, ini tenagamu, dan ini hasil usahamu.
Tegas bibirmu mengatakan itu.

Negeriku.

Dimana aku tenggelam, bersama tangisan saudara setanah airku.
Dimana aku tersayat, bersama gemulai asap hitam di langit biru.
Dimana aku meratap, dibawah payung hitam negeriku.
Aku hidup dibayang-bayang belenggu. Belenggu negeriku.

Suaraku tidak didengar.
Rintihku di hiraukan.
Tangisku dipendam dalam-dalam.
Tuntutan ku dianggap sparatis.
Sikapku dinilai anarkis.
Protesku disebut nonkooperatif.

Dialog sore itu, mengingatkanku, akan kerinduan.

Berlari, diantara penuh sesaknya nafsu materi.
Terasing, dari dalam diri.
Manusia tak henti dieksploitasi, hingga menafikkan jati diri.
Manusia seperti besi, bak tak punya hati.

Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya angkatan 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar