Selasa, 14 Februari 2017

Valentine dan Kendeng

sumber gambar: http://www.giovannidessy.wordpress.com
Valentine seringkali dikatakan oleh beberapa orang merupakan suatu perayaan yang dilarang oleh umat Islam. Mereka beranggapan bahwa Valentine merupakan ajaran agama Kristiani bahkan suatu tradisi yang dilakukan oleh kaum Pagan. Islam tidak pernah mengajarkan kepada umatnya tentang hari Valentine sehingga setiap orang muslim dilarang untuk merayakan bahkan mengucapkan hari Valentine saja karena akan dianggap akan membenarkan dan menyebarkan agaman Kristiani atau tradisi kaum Pagan. Setiap tanggal 14 Februari pasti banyak tulisan, postingan maupun baliho yang bertuliskan larangan dan fatwa haram bagi umat muslim untuk merayakan hari Valentine. Namun, dalam tulisan ini, penulis tidak ingin memaknai Valentine hanya sebatas perdebatan atas dogma agama melainkan akan memaknai ulang hari Valentine dengan cara historis dan memaknainya dengan fenomena masyarakat Indonesia.
Valentine merupakan hari yang bersejarah di masa Kekaisaran Roma dimana ada seorang pendeta yang dihukum mati oleh pihak kerajaan. Nama pendeta tersebut adalah Santo Valentino. Seorang pendeta yang berani melawan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak Kekaisaran Roma yang menuntut pihak pendeta geraja untuk tidak menikahkan para prajurit kerajaan. Pihak kerajaan mengeluarkan kebijakan tersebut dengan alasan untuk menjaga stabilitas politik. Jika para prajurit tidak menikah, mereka akan selalu fokus dalam menghadapi peperangan. Para prajurit tidak akan memiliki hambatan pernikahan karena tidak memiliki ikatan batiniah dengan siapapun. Namun, hal ini ditanggapi berbeda dengan Santo Valentino bahwa setiap manusia sejak lahir telah dikaruniai Tuhan atas ketertarikan terhadap lawan jenis. Oleh karena itu, pernikahan merupakan sifat lahiriah yang dimiliki manusia yang tidak bisa dihindarkan. Akibat perlawanan yang dilakukan Santo Valentino terhadap kebijakan kerajaan Roma, dia dihukum mati tepat tanggal 14 Februari. Sehingga seringkali tanggal tersebut dimaknai sebagai hari kasih sayang. Karena atas perlawanan dan keberanian Santo Valentino yang memperjuangkan hak prajurit untuk menikahkan mereka dengan lawan jenis, meskipun dengan jalan gerilya, berujung tragis. Perlawanan yang dilakukan oleh Santo Valentino terhadap kebijakan yang dikeluarkan penguasa dianggap sangat despotisme terhadap masyarakat. Padahal setiap manusia memiliki hak untuk mencintai dan menikahi lawan jenisnya namun pihak kerajaan membatasi mereka melalui kebijakan. Dalam konteks ini, dapat dipahami bahwa makna kasih sayang seseorang tak sepatutnya diatur dan dibatasi dengan suatu kebijakan yang akan berdampak pada tindakan despotisme penguasa.
Dalam konteks keindonesiaan, kita bisa melihat perjuangan masyarakat Kendeng yang melakukan perlawanan kebijakan despotisme pemerintah. Pemerintah dan pihak korperasi bekerjasama untuk mendirikan pabrik semen yang diprakarsai PT Semen Indonesia di daerah pegunungan Kendeng. Perlawanan yang dilakukan masyarakat Kendeng didasari atas kecintaan dan kasih sayang mereka kepada alam. Masyarakat Kendeng tidak ingin ada orang lain—terutama pemerintah dan korperasi—yang ingin melukai alam—yang sering mereka katakan sebagai Ibu Bumi—yang mereka cintai dan sayangi. Selama ini Ibu Bumi telah memberikan banyak manfaat kepada manusia yang sampai sekarang bisa hidup sampai berpuluh-puluh generasi. Tindakan pemerintah dan pihak korperasi yang menginginkan batu karst yang terdapat di pegunungan Kendeng akan melukai Ibu Bumi dan masyarakat sekitar. Dengan berbagai cata masyarakat Kendeng melawan tindakan pemerintah dan korperasi yang ingin melukai Ibu Bumi. Hingga akhirnya putusan Mahkamah Konstitusi mengeluarkan keputusan bahwa pabrik semen PT Semen Indonesia tidak boleh beroperasi di daerah pegunungan Kendeng karena akan berdampak pada kerusakan lingkungan. Perjuangan dan perlawanan masyarakat Kendeng yang didasari atas kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ibu Bumi membuahkan hasil. Meskipun sampai sekarang masih ada pihak-pihak yang pro terhadap pembangunan pabrik semen di pegunungan Kendeng yang berkeliaran tidak menyurutkan kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ibu Bumi. Dengan semangat solidaritas akan kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Ibu Bumi, mereka akan terus melawan tindakan pemerintah dan korperasi yang sewenang-wenang.
Perlawanan yang dilakukan Santo Valentino dan masyarakat Kendeng didasari atas ketidaksepakatan mereka atas kebijakan pemerintah yang despotisme. Keduanya menganggap bahwa pemerintah telah merenggut hak-hak manusia atas dasar kecintaan dan kasih sayang mereka. Jika konteks perlawanan di zaman Santo Valentino dimaknai atas kecintaan dan kasih sayang mereka kepada lawan jenis. Lain cerita dengan perlawanan masyarakat Kendeng yang dimaknai atas dasar kecintaan dan kasih sayang mereka terhadap Ibu Bumi. Oleh karena itu, penulis melakukan pembedaan makna Valentine yang seringkali menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Indonesia. Penulis tidak ingin terjabak pada satu kebenaran absolut dari simbol dan kata dalam teks yang seringkali dijadikan dogma seperti hari Valentine saat ini. Bagi penulis, simbol dan kata dalam teks tidak selalu dimaknai kebenaran mutlak yang mewakili kenyataan yang ada. Namun, simbol dan kata akan selalu berubah seiring perubahan waktu dalam memahami kenyataan yang ada. Maklum penulis lagi suka-sukanya dengan pemikiran Derrida tentang Dekontrusi. Penulis hanya memaknai Valentine sebagai sebuah teks yang bisa dipahami dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Valentine tidak hanya berbicara tentang kasih sayang dan kecintaan seseorang terhadap lawan jenis dengan memberikan cokelat sebagai simbol hari Valentine. Namun, penulis lebih menekankan bagaimana hari Valentine dimaknai sebagai hari dimana manusia menebarkan kasih sayang kepada mereka yang tertindas atas tindakan pemerintah yang despotisme. Tebarkan kasih sayang di hari Valentine ini dengan bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang menginjak-injak kaum musta’afin. Valentine tidak hanya dimaknai tentang kasih sayang kepada lawan jenis saja. Namun, sebagai dasar kecintaan dan kasih sayang terhadap Ibu Bumi dan kaum musta’afin untuk melawan otoritas pemerintah. Terakhir, penulis tidak memposisikan diri pro dan kontra terkait hari Valentine. Namun, lebih bagaimana memaknai ulang simbol dan kata dalam teks yang seringkali dijadikan kebenaran mutlak semata. Argumen penulis diatas hanya sebatas jejak kebenaran yang setiap waktu dapat didialektikakan sewaktu-waktu sehingga menghasilkan sebuah sintesa yang lebih baik.

*Penulis : Erry Ike Setiawan, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya angkatan 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar