Sabtu, 03 Juni 2017

Banalitas Pengetahuan: Kritik Perilaku Hedonis dan Pragmatis Mahasiswa

Sumber gambar: Artnet Magazine
Periode 1988-1994 adalah periode di mana atmosfer politik diradikalisasi dengan cepat akibat dari kebijakan politik masa itu yang disebutkan sebagai “massa mengambang”. Pada “massa mengambang” masyarakat tidak boleh berorganisasi dan tidak boleh diorganisir ke ranah politik. Namun “massa mengambang” tidak pernah benar-benar mengambang, karena yang terjadi adalah banyak media-media memunculkan keresahan-keresahan yang dialami oleh masyarakat.[1] Sehingga, membentuk kesadaran sebagai dampak dari sentimen kerakyatan; disebabkan karena masyarakat tidak dilibatkan dalam kehidupan politik. Akhirnya, memunculkan gerakan radikal secara besar-besaran yang khususnya dilakukan mahasiswa.
Radikalisasi dalam wacana politik tersebut tidak terwujud dalam organisasi permanen, misal Serikat Pekerja, Partai Politik, dll. Namun muncul gerakan-gerakan kecil yang lebih massif non-permanen (misal penggemar musik Iwan Fals yang menggemakan realitas sosial pada masa itu), sebagai bentuk dari perlawanan terhadap rezim kala itu. Sebenarnya sudah ada bibit-bibit radikalisasi pada tahun 1980-an, yaitu diinisiasai oleh nalar kritis mahasiswa, LSM, dan seniman dalam karyanya. Sehingga nalar kritis ini bisa ditumbuhkan dalam budaya populer, seperti Iwan Fals dan Slank yang memasukkan sentimen terhadap rezim dalam lagu-lagunya. Mahasiswa akhirnya sadar akan rezim yang tirani, sehingga banyak mahasiswa melakukan aksi-aksi. Dari data milik tim peneliti Yayasan Insan Politika, bahwa ada sekitar 30 hingga 40 aksi protes mahasiswa khususnya di daerah Jawa dan Jakarta.[2] Radikalisasi ini semakin dipertegas ketika:
Terjadi penindasan terhadap 21 mahasiswa dari Fami pada bulan Desember 1993, karena menuntut agar Soeharto diadili dalam sidang istimewa MPR RI. Sehingga terjadi perlonjakan jumlah aksi oleh mahasiswa menjadi kurang lebih 71 protes mahasiswa.[3]
Namun, terjadi ketimpangan di mana realitas mahasiswa sekarang ini berbeda jauh dengan masa orde baru. Hal ini disebabkan karena arus modernitas yang menuntun mahasiswa sekarang berfikir secara pragmatis, dan juga berperilaku “hedonis”. Pola pikir mahasiswa yang pragmatis dicirikan: berorientasi untuk lulus cepat (akibat kurikulum yang dibuat oleh pemerintah), pasif dalam proses diskusi di kelas (karena kurang membaca), dan mengutamakan kuantitas IPK tanpa memperdulikan kualitas.
Perilaku Hedonisme
Jika dipahami secara filsafat, Hedonisme berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “Hedone” yang artinya Kesenangan. Hedonisme adalah suatu pandangan hidup yang menganggap bahwa kenikmatan & kesenangan  adalah tujuan utama dalam hidup. Orang yang menganut paham ini akan berusaha mencari kesenangan sebanyak mungkin untuk menghindari perasaan yang menyakitkan. Mereka menganggap bahwa hidup ini hanya satu kali, maka nikmatilah hidup senikmat nikmatnya  demi memenuhi nafsu dalam diri. Bahkan mereka kagum dengan pandangan Epikuros yang menyatakan “Bergembiralah engkau hari ini, Puaskan Nafsumu, Karena Besok, Engkau akan Mati”.[4]
Sikap hidup hedonistik dalam pemahaman umum yang menggejala dalam mahasiswa, yakni sikap hidup yang cenderung foya-foya dan lebih berkonotasi materi. Kenikmatan diukur dari sisi materi. Jika di telaah lebih lanjut mahasiswa hedon ini terkungkung dalam kenyamanan dan seakan acuh tak acuh terhadap realitas sosial yang ada. Hal ini merupakan dampak negatif dari modernitas yang membuat manusia terjerumus oleh rasionalitas. Rasionalitas di sini misalnya, ketika sebuah kegiatan itu dinilai artinya, ketika seseorang melakukan kegiatan tertentu (misal, mengkritik kebijakan pemerintah), keuntungannya apa? Kesenangannya bagi mereka apa? Tentu akan merugikan ketika tidak ada keuntungan bagi individu tersebut. Misal, dihadapkan pada sebuah pilihan antara menonton drama Korea di kamar kos atau ngopi sambil diskusi, mereka akan lebih memilih untuk menonton drama Korea.
Pemahaman hedonisme itu sendiri mengalami penyimpangan dari pemikir awalnya di mana, kenikmatan yang dimaksud oleh Epikuros adalah ketenangan raga terbatas, malah dipahami sebagai kenikmatan yang tidak terbatas.[5] Amrin Ra’uf (2005: 31) mengatakan bahwa setiap individu memiliki cara tersendiri untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa mengancam dirinya terperosok pada ruang hedonism”. Cara mengantisipasi gaya hidup hedonisme: [6]
  1. Membangun kesadaran
Bahwa bersikap hedonisme akan membuat hilangnya identitas diri sendiri yang mandiri dan memiliki akal sehat untuk membedakan baik dan buruk, yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.
  1. Menahan keinginan untuk bersifat hedonis
Individu harus mampu menahan keinginannya untuk bersikap hedonisme agar dapat mengendalikan dirinya dengan sebaik-baiknya.
  1. Memanfaatkan kekayaan menjadi lebih berkualitas
Tidak semua orang mampu mengatur harta kekayaan menjadi lebih baik dan berkualitas, terkecuali mereka yang mampu menguasai harta kekayaan itu dengan sebaik-baiknya.
  1. Berproses dalam kehidupan
Membangun kesadaran diri sendiri, menahan sikap hedonisme, menggunakan kekayaan lebih bermanfaat dan sebagai proses dalam kehidupan agar lebih terarah dan terhindar dari dampak gaya hidup hedonisme yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Pragmatisme
Pragmatisme merupakan sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit, dan instant. Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan, atau yang diharapkan ingin segera tercapai tanpa melalui proses yang berdarah-darah. Misalnya dengan berkembangnya teknologi, mahasiswa sekarang ini lebih suka mencari sumber dari internet dari pada mencari sumber dari buku. Pragmatsme ini berdampak pada banalitas pengetahuan yang ditandai oleh pendangkalan pemikiran yang tidak disadari, kemerosotan kualitas intelektual dan akademik.[7]
Banalitas intelektual dapat dilihat dari adanya fenomena pengkhianatan akademik.[8] Akademisi yang seharusnya bertugas melakukan refleksi kritis atas nilai-nilai abstrak yang abadi seperti kebenaran, keadilan, terjebak pada kepentingan-kepentingan pragmatis untuk meningkatkan pendapatan. Kondisi mahasiswa yang jauh dari etika akademik ini tidak bisa dilepaskan dari faktor eksternal, yakni tuntutan indeks prestasi yang tinggi. Penyebab-penyebab banalitas pengetahuan dalam analisis Jessica dalam jurnalnya yang berjudul “Banalitas Intelektual dalam Dunia Pendidikan Perguruan Tinggi Suatu Kajian Filsafat Ilmu”: [9]
  1. Dominasi pandangan kuantitatif dalam mengukur suatu kualitas
Kualitas di sini diangkakan sehingga bisa jadi hal-hal substantif diabaikan untuk praktek pragmatisme. Misal, kualitas intelektual melulu diukur dari banyaknya tulisan dalam jurnal, akibatnya substansi dari tulisan tersebut justru seringkali diabaikan. Dominasi ini lahir karena kejayaan metode induktivis dalam ilmu. Dalam metode induktivis semakin banyak bukti (data) maka semakin kuatlah teori tersebut.
  1. Mengabaikan tujuan Ilmu
Banalitas intelektual terjadi karena melupakan tujuan ilmu untuk kesejahteraan umat manusia, bukan hanya untuk kepentingan kepuasan individu. Maka sebuah ilmu itu harus otonom, dengan demikian, ilmu akan mengemukakan kebenaran yang sejati karena tidak tunduk pada kepentingan-kepentingan di luar dirinya.
  1. Perubahan cara pandang sebagai jalan keluar
Perubahan cara pandang yang mengutamakan kuantitas dapat dilakukan pertama dengan menyadari adanya anomali dalam cara pandang tersebut. Akhirnya ya terjadi adalah mahasiswa sekarang terpaku dalam IPK yang belum tentu mereka dengan mendapatkan IPK bagus secara kualitasmereka bagus. Maka yang terjadi adalah ada seorang mahasiswa yang hanya belajar dengan menggunakan PPT dari Dosen medapatkan IPK bagus dan memperoleh beasiswa PPA, nah apakah beasiswa ini sudah tepat sasaran?? Belum tentu.
Paradigma “Kritis Transformatif” sebagai bentuk counter dari banalitas pengetahuan.
            Untuk melawan banalitas pengetahuan dibutuhkan sebuah alternatif paradigma kritis. Paradigma yang perlu untuk dimunculkan sekarang ini adalah paradigma kritis transformatif, paradigma ini didasari pada teori kritis dari mahzhab Frankfurt. Mengapa kritis transformatif? Karena masyarakat Indonesia saat ini terbelenggu oleh nilai-nilai kapitalisme modern (hedonis, pragmatis). Teori Kritis, dijelaskan dalam Teori Sosiologi Modern, adalah produk sekelompok neo-Marxis Jerman yang tak puas dengan keadaan teori Marxian, terutama kecenderungannya menuju apa yang mereka sebut determinisme ekonomi. Madzhab Frankfrut mengkarakterisasikan berpikir kritis dengan empat hal :
  1. Berpikir dalam totalitas (dialektis);
  2. Berpikir empiris-historis;
  3. Berpikir dalam kesatuan teori dan praksis;
  4. Berpikir dalam realitas yang tengah dan terus bekerja.
Pada dasarnya mereka mengembangkan apa yang disebut dengan kritik ideologi atau kritik dominasi.[10] Sasaran kritik ini bukan hanya pada struktur sosial namun juga pada ideologi dominan dalam masyarakat. Jika kita sederhanakan, teori kritis adalah teori yang bukan hanya sekedar pembacaan pasif terhadap problem realitas, tetapi lebih bersifat emansipatoris. Dan teori yang emansipatoris harus memenuhi minimal tiga syarat : Pertama, bersifat kritis dan curiga terhadap segala sesuatu yang terjadi pada zamannya. Kedua, berfikir secara historis, artinya selalu melihat proses perkembangan masyarakat. Ketiga, tidak memisahkan teori dan praksis; tidak melepaskan fakta dari nilai semata-mata untuk mendapatkan hasil yang obyektif.
Kritis transformatif
Kritis saja tidak lah cukup tanpa diimbangi dengan transformatif, sebab kritis hanya sebatas proses analisis, yang tentunya masih ‘abstrak’ dan perlu dikristalkan menjadi wujud konkret (gerakan). Paradigma kritis sebagaimana uraian di atas, adalah sebuah alat analisa. Namun, belum mampu memberikan prespektif tentang jawaban terhadap formasi sosial; strategi mentransformasikannya.[11] Oleh karena itu, ‘transformatif’ dihadirkan dalam rangka melengkapi kekurangan pasca ‘analisa’ atau kontemplasi. Makna transformatif kurang lebih adalah proses pengubahan dari satu bentuk—yaitu berupa gagasan atau ide dan sistem gerakan—menjadi bentuk baru yang mampu menjamah realitas masyarakat; pada wilayah tindakan praksis.[12]‘Transformatif’ dimunculkan tidak lain adalah dalam rangka membumikan atau memanifestasikan paradigma kritis. Sehingga, paradigma kritis tidak menjadi sebuah utopia, yang melayang-layang dan jauh dari sasaran.[13]
Konklusi
Perilaku hedonis dan pragmatis dinilai sebagai sebuah banalitas (kemunduran) pengetahuan. Mahasiswa yang berperilaku hedonis tidak akan melakukan kegiatan diskusi sambil ngopi, dan lebih memilih menonton drama Korea di kamar kos. Di sisi lain kebijakan pemerintah dengan kurikulum itu, membuat mahasiswa berorientasi untuk lulus cepat, dan meninggalkan budaya membaca buku. Pada akhirnya mereka yang lulus cepat dengan IPK yang tinggi belum tentu memilik kualitas secara akademik.
            Maka, dibutuhkan mahasiswa dan dosen yang memiliki kesadaran kritis.  Mahasiswa yang memiliki kesadaran kritis harus bisa menyadarkan teman-temannya, supaya mereka yang hedon dan pragmatis terpengaruh untuk membaca buku sehingga, kesadaran kritis akan terbentuk. Dan juga, dosen harus bisa memanfaatkan ruang kelas untuk menginisiasi mahasiswanya berwawasan kritis. Namun, kritis di sini juga harus ditambah dengan transformatif, karena analisis saja belum bisa menjawab tantangan dari realitas sosial. Karena, kesadaran kritis perlu untuk diimplementasikan dalam realitas sosial.
Ditulis oleh Eka Arianto, mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP UB.
[1] Max Lane. 2014. Unfinished Nation. Yogyakarta: Djaman Baroe. Hlm 220-221.
[2] Ibid. Hlm 222-223.
[3] Ibid. Hl 223-224
[4] Misbakhul Munir. 2016. Filsafat Paham Hedonisme dan Contohnya. www.misbakhul44.com/2016/09/filsafat-paham-hedonisme-dan-conohnya.html?m=1. Diakses pada tanggal 25 April 2017 pukul 03.14 WIB.
[5] Sri Sudarsih. 2012. Konsep Hedonisme Epikuros dan Situasi Indonesa Masa Kini. JSP. Hal 5-6.
[6] Novita Trimarati. 2014. Studi Kasus Tentang Gaya Hidup Hedonisme Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas Ahmad Dahlan. Vol 3 No. 1. Hlm 24.
[7] Anastasia Jessica Adinda. 2013. Banalitas Intelektual dalam Dunia Pendidikan Perguruan Tinggi Suatu Kajian Filsafat Ilmu. Jurnal Filsafat: Vol 2 No 2. Hlm 160.
[8] Ibid. Hlm 162.
[9] Ibid. Hlm 167
[10]Nur Sayyid Santoso Kristeva. 2007. Manifesto Wacana Kiri. Jogjakarta: Eye On The Revolution dan Revdem. Hlm. 142.
[11] Ibid. Hlm. 140.
[12] Ibid. Hlm. 145.
[13] Ibid. Hlm. 145.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar