Sabtu, 04 Februari 2017

Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan

Buku yang berjudul “MITOS TAMBANG UNTUK KESEJAHTERAAN: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan”, ditulis oleh Hendra Try Ardianto memiliki urgensi tersendiri bagi mahasiswa FIA dan FISIP terkhusus yang mengambil fokus kajian kebijakan. Buku ini adalah alternatif referensi dari sekian banyak pembahasan kebijakan di kampus-kampus Indonesia, yang bisa dibilang tidak ada pembaharuan dan terkesan normatif. Di sisi lain, bagi kalangan umum bisa melihat pertarungan wacana yang terjadi dari pendirian industri semen oleh PT. Semen Indonesia di Rembang.
Awalnya buku ini adalah tesis penulis, sesuai dengan ucapan beliau bahwa “pada awalnya buku ini aku tulis sebagai syarat kelulusan studi pascasarjana tahun kemarin”, ucap Hendra Try. Setelah saya (resiator buku) telusuri judul awal dari buku ini dalam tesis, ialah “TAMBANG UNTUK KESEJAHTERAAN? Alternatif Model Untuk Memaknai Ulang Kebijakan Pertambangan di Rembang” pada tahun 2015 di Program Pascasarjana FISIPOL UGM. Oleh karena itu, sebelum menguraikan isi buku ini selayaknya terlebih dahulu mengenal penulis buku ini secara singkat. Penulis buku bernama Hendra Try Ardianto, adalah lulusan Departemen Politik Pemerintahan FISIPOL UGM. Beliau menyelesaikan studi strata 1 dan 2 di jurusan dan kampus yang sama. Beliau juga aktif sebagi penulis dan editor diberbagai media elektronik, ada beberapa tulisannya telah diterbitkan di antaranya: Memutus Interaksi Patron Klien di Lingkungan Perkebunan (JIP, 2009), #RembangMelawan Membongkar Fantasi Pertambvangan Semen di Pengunungan Kendeng (Literasi Press, 2015), dan Berebut Kontrol Atas Kesejahteraan Kasus-Kasus Politisasi Demokrasi di Tingkat Lokal (PCD Press, 2015).
Buku ini terdiri dari delapan bagian yang menggambarkan pertarungan wacana dari negara dan korporasi dengan para petani Rembang. Pada bagian satu ditulis: “Berebut Makna Kesejahteraan”, memaparkan analisis kebijakan yang dibuatnya menggunakan konsep hegemoni Laclau dan Mouffe. Hegemoni yang dimaksud ialah penciptaan realitas yang tampak “netral dan objektif” dilakukan oleh negara untuk mendirikan industri semen, dengan maksud untuk kesejahteraan rakyat. Hendra Try tidak menggunakan analisis kebijkan model teknokratis ataupun proseduralis, dikatakannya itu adalah hal mainstream di Indonesia. Model tersebut juga terkesan hanya membicarakan persoalan ontologis, yang tidak sampai pada persoalan aksiologis; kecenderungan fatalnya ialah model analisis kebijikaan teknokratis atau proseduralis berakhir dengan serangkaian rekomendasi, yang didapat dari deskripsi hasil temuan penelitian. Ini tidak terlepas dari pandangan kebijakan itu sebagai tahapan-tahapan, prosedur-prosedur yang berjalan liner dan bisa diuji setiap tahapannya. Model proseduralis maupun teknokratis mendapat kritik karena kecenderungannya yang meletakkan negara sebagai satu-satunya aktor yang mampu mengatasi persoalan-persoalan publik (Santoso, Hanif, dan Gustomi ed. 2004: xxvi).
Pada bagian dua penulis memberikan judul “Pertambangan Dalam Persimpangan Wacana Pembangunan”, menguraikan tentang korelasi pertambangan semen dalam wacana pembangunan global. Eksploitasi sumber daya alam dilihat sebagai salah satu upaya menuju industrialisasi yang menjadi syarat kunci dalam pembangunan ekonomi (Rostow: 1961). Hendra Try yang melihat dari analisis strukturalis dan post-marxis Amerika Latin mengatakan, bahwa trickle down effect yang datang dari industrialisasi teryata tidak terjadi. Pembangunan di era globalisasi dengan membawa konsep sustainable development dan tata kelola pemerintahan melalui good governance—sebenarnya ialah hasrat untuk terus melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam di negara dunia ketiga; kedua hal tersebut hadir dalam bentuk yang sangat politis dan sarat akan kepentingan korporasi.
Pada bagian tiga membahas “Konteks Lokal: Hadirnya Mitos Tambang Untuk Kesejahteraan”, diuraikannya mengenai bagaimana negara mengkonstruksi makna krisis—terkait dengan kondisi masyarakat Rembang yang tergolong pada garis kemiskinan. Bagian ini banyak mengutip dari berbagai pernyataan Gubernur Jawa Tengah Bibit (periode 2008-2013) dan Ganjar (periode 2013-2018), Salim (Bupati Rembang 2010-2015), dan dokumen perencanaan pemerintah daerah sebagai solusi atas kemiskinan yang terjadi di Rembang. Hendra Try melihatnya ini sebagai proses negara sedang melakukan suatu mitos sosial (social myths), yang memiliki nama “tambang untuk kesejahteraan”.
Pada bagian empat membahas “Menciptakan Hegemoni Pembangunan Berbasis Tambang”, diuraikannya mengenai hegemoni wacana kesejahteraan melalui tambang untuk meyakinkan rakyat. Pada awal pembahasaan penulis melihat ada kecurigaan atas praktik artikulasi yang menopang makna Good Minning Practices(GMP), dengan melacaknya melalui UU No. 4 Tahunn 2009. Hegemoni yang berlangsung untuk memperlancar industri semen melibatkan beberapa aktor meliputi: para ahli berbagai bidang, pemuka agama, masyarakat samin pro industrialisasi, dan produser film. Namun, hegemoni masih bersifat sementara dan tidak solid. Ini bisa dilihat dengan adanya antagonisme dari masyarakat, sehingga hegemoni tersebut menjadi struktur yang terdislokasi ulang.
Pada bagian lima buku berjudul “Dislokasi Makna: Celah Yang Ditutupi Terbuka Kembali”, ditarik dari pembahasaan sebelumnya terutama di bagian tiga dan empat, ternyata wacana kesejahteraan yang diusung negara malah membuka celah yang mengakibatkan terjadinya berbagai kesalahan struktural yang lain. Hendra Try melakukan counter hegemony atas green industry, dengan  mengutip dari majalah the Economist “the cement industry is one of the world’s most polluting: it account for 5% of man-made carbon-dioxide emission each year”. Jadi, di sini jelas sudah proyek pembangunan semen yang rmenggunakan teknologi ramah lingkungan hanya mitos. Riset telah menunjukkan bahwa, semen adalah penyumbang efek rumah kaca terbesar dibanding dengan industri lainnya, yang membawa semangat modernisasi. Praktik kebijakan proseduralisme dan teknokratisme ternyata penuh manipulasi, dan itu hanya jalan untuk melapangkan pendirian industri pertambangan semen skala besar.
Pada bagian enam membahas mengenai “Antagonisme Menolak Pertambangan”, setelah adanya dislokasi struktur dari hegemoni negara dan korporasi, rakyat melakukan counter-hegemony dengan memiliki asumsi tersendiri makna “kesejahteraan”. Keberadaan pertambangan skala besar memiliki pengaruh terjadinya fenomena depeasantization ataupun deagrarianization di kawasan pegunungan Kendeng. Counter-hegemony melalui kebudayaan juga dilakukan para ibu-ibu Kendeng dengan menciptakan sebuah lagu “Ibu Pertiwi”, yang liriknya menggunakan bahasa jawa. Hendra Try juga mengutip hasil wawancara dengan ibu Sukinah, petani di kawasan Kendeng “Kami pernah tinggal di Jepara selama enam tahun…..Tetapi, waktu itu saya tidak tahan karena hidup rasanya serba susah…..Hidup di kota rasanya serba uang, tidak ada saling membantu antar tetangga. Beda dengan di desa, mau makan ketela tidak perlu membeli karena sudah banyak tetangga mau berbagi”. Praktik artikulasi yang dilakukan rakyat terus berlangsung hingga menyeret makna kesejahteraan ke dalam chain of difference. Sampai saat inipun pertarungan wacana antara negara dan korporasi dengan rakyat Kendeng masih terus berlangsung.
Pada bagian enam membahas mengenai “Keluar Dari Teknokratisme dan Proseduralis: Mencari Model Analisis Alternatif”. Sedikit jauh dari pembahasaan sebelumnya, Hendra Try mengajak pembaca untuk mencari model alternatif baru dari studi analisis kebijakan. Penulis melakukan kritik terhadap analisis kebijakan dengan menggunakan pendekatan rasional, dianggap normatif dan selalu pengambil kebijakan (negara) sebagai satu-satunya subjek yang netral, independen, dan bisa menerjemahkan semua keinginan di masyarakat. Hendra Try di sini menawarkan suatu pendekatan konstruktifis, titik fokusnya pada jalinan makna yang mengkonstruki kebijakan disbanding dengan rangkaian prosedur yang ditetapkan. Pendekatan ini juga menempatkan aktor pengambil kebijakan dalam posisi yang memihak; berbanding terbalik dengan pendekatan rasional seperti penjelasan di atas. Pengambil kebijakan diposisikan sebagai jalinan makna yang memiliki identitas dari pertarungan makna –tidak ada aktor yang netral dalam dinamika kebijakan.
Di bagian terakhir buku ini penulis melakukan penyimpulan dari pembahasan yang sudah diulas di bagian-bagian sebelumnya. Pada awalnya mitos yang dibuat negara atas kemiskinan, yang terjadi di Rembang bisa teratasi melalui “tambang untuk kesejateraan” terus disempurnakan makna-nya. Sehingga dilakukan transformasi praktik artikulasi secara simbolis menjadi imaji sosial, ini dilakukan agar semua kalangan bisa menerima kebijakan yang dibuat. Akan tetapi, rakyat Kendeng melakukan subversi makna pada mitos yang dibangun negara; imaji sosial ternyata tidak terbentuk di rakyat, yang menyebabkan mitos oleh negara tidak didukung oleh akar rumput. Sebaliknya, hegemoni negara memicu antagonisme yang melahirkan counter-hegemony melalui gerakan perlawanan dari rakyat untuk menolak industri semen. Maka Hendra Try memiliki kesimpulan, bahwa kebijakan industri semen di Rembang membuat rakyat sebagai victim, bukan beneficiaries yang diasumsikan oleh analisis kebijakan model proseduralis dan teknokratis.
Setelah resiator menguraikan bagian-bagian dari buku ini ada beberapa hal yang menarik, di antaranya: Pertama, Hendra Try selaku penulis buku memiliki ilmu pengetahuan yang luas di bidang kebijakan, terlihat dari keberagaman referensi dan juga melakukan perbandingan teori, serta keterlibatannya langsung meng-advokasi rakyat. Kedua, analisis yang dipakai juga terbilang meguatkan posisi keterpihakan penulis kepada rakyat Kendeng, sebagai peneliti dan pihak yang terlibat untuk diteliti. Ketiga, buku ini memberikan warna baru dalam studi analisis kebijakan di Indonesia yang normatif dan menjenuhkan. Keempat, cover buku juga memberikan arti tersendiri atas bahaya pelaksanaan industrialisasi terhadap pertanian. Perihal kritik terhadap buku ini resiator tidak menyebutkannya. Akan tetapi, menyerahkannya kepada pembaca lain yang nantinya setelah membaca juga melakukan resensi, ini dilakukan sebagai harapan untuk kelangsungan membangun literasi kedepannya.
Terakhir dari resensi buku “MITOS TAMBANG UNTUK KESEJAHTERAAN: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan”, resiator mempunyai harapan kepada mahasiswa untuk membaca karya ini, khususnya mahasiswa FIA dan FISIP yang fokus dalam studi kebijakan. Di sisi lain, buku ini mampu membuka kesadaran mahasiswa untuk aktif terlibat dalam memihak rakyat, yang selalu dirugikan oleh kebijakan hasil perselingkuhan negara dengan korporasi. Selamat membaca sahabat !!!
*oleh: Mohammad Imam Faisal, mahasiswa FISIP UB angkatan 2014 yang sibuk mencari sisa revolusi di secangkir kopi.
*rehal buku: MITOS TAMBANG UNTUK KESEJAHTERAAN: Pertarungan Wacana Kesejahteraan dalam Kebijakan Pertambangan. Penulis: Hendra Try Ardianto. Editor: Dwi Cipta. Cetakan I, November 2016. Penerbit: PolGov.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar