Rabu, 08 Februari 2017

Jenderal (masih) Berkuasa Itu Bukan Demokrasi

Sumber gambar: inilah.com

Aku masih ingat tahun itu
Tahun dimana rakyat pertama kali memilih pemimpin lewat pemilu
Elit lama dan baru bersaing berebut RI satu
Kawan dan lawan di orde baru dilupakan dan dianggap masa lalu

Semangat reformasi begitu cepat dilupakan
Hanya karena pemilihan presiden oleh rakyat sudah dilaksakan

Bocah ingusan asal Pacitan jadi pilihan
Aku salah,
Dia laki-laki gagah dan tampan
Dia terpilih memimpin negeri untuk lima tahun ke depan
Partai lambang merk mobil ternama jadi kendaraan
Usia dan prestasi partai tidak jadi halangan

Apakah ini hasil dari reformasi?
Ah tidak,
Si tampan itu terlihat basi
Pemilu bukanlah dasar dari jalannya demokrasi

Dia masih sama dengan presiden yang kedua
Lahir dan tumbuh berkembang dari barak tentara yang baunya amis penuh dosa

Aku mencium aroma yang sama
Indonesia akan digadaikan kepada Amerika dan Cina
Semua sumber daya dipelacurkan olehnya
Mulai dari kekayaan alam sampai tenaga manusia
Dianggapnya itu untuk satu tujuan mulia
Yakni bangsa Indonesia yang sejahtera

Bajingan,
Tai kucing tercecer di jalanan
Kau ini presiden atau germo pelacuran
Tega kau lacurkan negeri yang indah permai ini
Hanya untuk kepentingan diri sendiri

Kenapa tidak kau lacurkan saja istrimu yang semok seksi bagai permata itu?
Oh tidak aku salah
Istrimu orang baik
Dia perempuan setia
Selalu menemani suami saat bekerja
Tidak pernah lupa selalu bawa kamera dan,
Tebar pesona pastinya melalui sosial media

Indah sekali keluargamu jendral
Bahagia pastinya tinggal sepuluh tahun di istana
Sampai kau lupa deretan kasus dalam waktu sepuluh tahun itu
Tak tersentuh sama sekali kau jendral
Luar biasa bajingannya kau
Masih ingatkah kau pada Cak Munir, lapindo, BLBI, century, hambalang, dan reklamasi teluk benoa di pulau Bali?

Ah sudah,
Tidak akan aku bahas kasus itu lagi
Biarkan rakyat hidup tenang, walaupun semua itu tidak akan pernah dilupakan

Aku akhiri saja puisi ini
Puisi pemaki yang tidak punya hati nurani


Maafkan aku jendral
Jika kau tersinggung jangan seret aku di pengadilan
Cukup langsung dipenjarakan
Aku tak mampu menyewa pengacara harga milyaran di pengadilan
Karena aku hanya bocah pengangguran di kota perantauan

*penulis memiliki nama Mohammad Imam Faisal mahasiswa FISIP UB angkatan 2014, yang sibuk mencari sisa revolusi di secangkir kopi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar