Minggu, 13 Maret 2016

Manifestasi Politik Islam Nusantara

Oleh : Erry Ike Setiawan
Editor : Dwi Isa Aqlami
            Gagasan Islam Nusantara pernah kita dengar pada saat Muktamar NU ke – 33 di Jombang satu tahun yang lalu. Gagasan tersebut dibumingkan oleh kelompok organisasi masyarakat dengan basis islam – Nahdhatul Ulama (NU) – dengan membawa tema muktamar yang memiliki esensi cita – cita yang tinggi untuk kehidupan dan peradaban bangsa dan dunia yang lebih baik. Dari tema dan cita – cita yang tinggi tersebutlah, NU membawa gagasan Islam Nusantara, Islam yang memiliki tradisi dan ritual keagamaan yang khas dengan indonesia. Gagasan tersebut tercipta disaat pergolakan bangsa indonesia ataupun negara – negara Islam di dunia mengalami banyak konflik antar kelompok yang mengatasnamakan Islam. Sebut saja Iran Syria Islam State (ISIS)Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dll. Kelompok yang mengaku “fundamentalis” yang dipandang masyarakat pada umumnya sebagai kelompok “ekstrimis” tersebut melakukan banyak perlawanan kepada negara – negara yang non Islam dan salah satu tujuannya adalah menegakkan suatu negara yang berlandaskan azas dan nilai-nilai  keislaman. Dari permasalahan tersebutlah NU muncul sebagai organisasi masyarakat yang menawarkan gagasan Islam Nusantara, Islam yang cinta damai, anti kekerasan dan islam yang rahmatan lil alamin.
NU sebagai organisasi masyarakat yang memiliki basis terbesar di indonesia melakukan penangkalan terhadap paham – paham yang dibawa kelompok – kelompok ekstrimis tersebut. Mengingat mulai banyaknya kelompok – kelompok ektrimis terutama di indonesia yang ingin mencoba merubah haluan bangsa kita menjadi negara islam. Padahal indonesia memiliki banyak suku, agama, budaya yang berbeda – beda yang menunjukkan pluralitas atau keberagaman yang mendasari persatuan indonesia. Sehingga upaya merubah haluan bangsa tersebut hampir tidak mungkin terjadi meski masih ada kelompok – kelompok tertentu yang melakukan gerakan bawah tanah untuk menyiarkan ajaran – ajaran mereka. Ini lah yang seharusnya kita waspadai selama ini. Dengan gagasan Islam Nusantara kita bisa menggunakannya untuk menangkal kelompok ektrimis tersebut. Gagasan yang membawa prinsip – prinsip dalam keagamaan ataupun sosial diyakini untuk mampu mengatasi permasalah tersebut yakni tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawasut(toleransi), ta’adul (keadilan) dan amar ma’ruf nahi munkaryang dimana biasa disebut dengan prinsip dalam aswaja (ahlus-sunnah wal jama’ah) pada ajaran NU.
Dari prinsip – prinsip tersebut selain Al-Quran dan Al-Hadist bisa dijadikan sebagai pedoman/petunjuk dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara atau Way Of Life. Selama ini sering kita dengar kalau kelompok ekstrimis tertentu di indonesia ingin menjadikan Al-Quran dan Al-Hadist sebagai dasar negara indonesia. Padahal Al-Quran dan Al-Hadist itu sebagai Way Of Life bukan Way Of State.Oleh karena itu, sangat salah kaprah kalau kelompok ektrimis tertentu ingin menjadikan Al-Quran dan Al-Hadist sebagai dasar suatu negara yang sering disebut negara khilafah. Agama dan negara memiliki rana yang berbeda dalam pengaplikasiannya. Agama itu bersentuhan langsung dengan Tuhan tetapi negara bersentuhan langsung dengan manusia atau bisa dikatakan dengan berpolitik untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Jadi tugas dari Agama dan negara sangat berbeda. Oleh karena itu Agama (Islam) tidak mungkin bisa dijadikan pedoman dasar negara seperti di indonesia. Apakah Islam pernah mengajarkan tentang sistem pemerintahan yang baik? Apakah Islam pernah mengajarkan untuk berpolitik? Apakah Islam pernah mengajarkan untuk mendirikan negara yang berbasis Islam ? Suatu pertanyaan yang masih menjadi kegalauan, karena banyaknya tafsiran yang berbeda tentang hal tersebut.
Gagasan Islam Nusantara muncul disaat yang tepat karena mulai maraknya gagasan politik Islam yang ingin mendirikan negara khilafah di indonesia. Islam Nusantara tidak hanya sekedar pedoman/petunjuk dalam kehidupan. Tapi gagasan tersebut bisa menjadi alat politik untuk menandingi gagasan politik Islam kelompok ektrimis tertentu. Kehadiran Islam Nusantara sebagai alat politik Islam tidak seperti gagasan politik Islam kelompok ektrimis di indonesia. Islam Nusantara tidak harus mengubah label negara indonesia – negara pancasila –  untuk bisa berpolitik. Tapi bagaimana prinsip, nilai, norma, tradisi, ritual keagamaan khas indonesia yang terkandung dalam Islam Nusantara disebarkan tanpa harus mengubah label negara kita. Berbeda dengan kelompok ektrimis yang membawa gagasan politik Islam dengan cara mengubah negara indonesia yang berlandaskan pancasila menjadi negara Islam/khilafah yang berlandaskan Syari’at Islam. Dari permasalahan tersebutlahgagasan Islam Nusantara muncul dengan membawa pemikiran politik Islam yang khas denganke-indonesia-an sehingga mampu untuk mencegah politik Islam dari kelompok ekstrimis tertentu di indonesia. Praktik politik Islam Nusantara tidak sama juga dengan praktik politik Islam kelompok ektrimis di indonesia. Dalam hal penyebarannya tidak melalui kekerasan seperti perang sipil dalam menegakkan Agama Islam. Tapi bagaimana dalam penyebaraanya, Islam Nusantara menggunakan jalan cinta damai dalam berpolitik dengan menunjukkan bahwa gagasan politik tersebut adalah gagasan politik Islam yang rahmatan lil alamin.
Islam Nusantara adalah Islam yang khas dengan indonesia, Islam yang diakulturasi dengan budaya indonesia, Islam yang tidak meninggalkan ajaran – ajaran yang ada didalam-Nya, Islam kita adalah Islam pribumi. Islam Nusantara adalah gagasan yang ingin mengindonesiakan Islam tapi bukan Mengislamkan Indonesia. Islam Nusantara adalah gagasan politik Islam yang ingin mengubah kehidupan berbangsa dan bernegara melalui nilai, norma, prinsip yang terkandung di dalamnya, bukan gagasan politik Islam yang ingin mengubah indonesia menjadi negara Islam/khilafah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar