Sabtu, 13 Februari 2016

Romansa Kampung Halaman

Oleh: Syaiful Anam
Kampung halaman menjadi sebuah cawan beribu kisah romantis dengan berbagai melodi khas yang enggan untuk berlalu dalam setiap benak orang. Disanalah berbagai macam dialektika pertentangan dan penyatuan hidup manusia tumbuh menjulang bak pohon bambu yang terus menentang lazuardi. Mengalir bagai air sungai yang terus saja bergerak dan berlalu melewati celah-celah bebatuan dan pepohonan dipinggiran hingga tiba ditubuh luas lautan. Seperti semua orang yang lahir dan tumbuh dengan berbagai macam nuansa cerita dalam hidupnya yang kelak menjadi sebuah ingatan mengharukan ketika duduk sambil menelanjangi samar-samar kabut masa lalu, begitu pulalah diriku ditengah berbagai cerita hidup yang ada (nya) tanpa naskah dari seorang sutradara tetapi romansa yang tumbuh bak musim semi ditubuh bumi dan aurora diwajah sang malam. Beginilah kisahnya.

Senyalir PKI
Membongkar tabir malam di bawah tatapan bintang yang bertaburan bagaikan pasir di gurun ghobi, segelas kopi berukuran sedang dengan asap tipis yang menari diatasnya membuat suasana semakin nyaman, bunyi jangkrik dipesawahan kian bersahutan menjadi melodi yang kian mesra ditambah lagi suara kodok di periran tengah sawah. Nampak lengkap suasana malam. Dilanggar kayu yang cukup luas kami mengobrol sana sini seputar masa lalu, Kiai Ahmad menjadi teman ngobrol yang mengasikan.
Sosok tokoh masyrakat alumni Pondok Pesantren Darul Ulum banyu anyar itu ngobrol dengan ciri khas beliau, pelan dengan suara beratnya. Obrolan panjang diantara kami berdua terus berjalan seiring topik yang silih berganti mulai dari kisah santri di pesantren, cerita msyarakat dikampung halaman, dan perseteruan PKI dengan para tokoh Ulama NU. Topik terakhir menjadi hal yang paling menarik untuk diobrolkan sembari menatap hiasan bintang yang seolah enggan padam dan menunggu pagi untuk menjemputnya berlalu.
Kiai Ahmad sejenak berhenti sambil menyeruput kopi dan megambil sebatang rokok Gudang Garam merah, sementara rokok ku sudah habis melihat hal itu dengan lirikan tipisnya dia menwarkan rokok, “ nikak roke’en ful mun kasokan, mun guleh pas cek nyamanah” ujarnya sambil menyodorkan rokok.[1] Ah bagi saya yang penting rokok selama itu masih disandingkan dengan kopi akan selalu nikmat.  “ engki mbah” begitu ujarku sambil mengambil sebatang rokok gudang garam merah, aroma nikmatnya khas, rokok gudang garam merah menjadi salah satu penanda status seseorang dikampung halaman ku, rokok yang ada sejak tahun 1958 itu masih sama aromanya ujar kiai ahmad sambil lalu terlihat menikmati aromanya. Beliau menyeruput kopi itu sekali lagi sambil meneruskan obrolan mengenai PKI sedangkan saya selalu asyik mendengarkan perkataan beliau.
Dulu disini pernah terjadi perselisihan antara Ulama NU dengan orang-orang PKI beliau sambil lalu menyedot rokok dijarinya, PKI dulu pernah ingin melakukan sebuah rencana pembunuhan terhadap tokoh-tokoh Ulama NU, ya salah satunya Kiai Ali itu. Heran mendengar sosok kia yang belum pernah aku dengar sepintas dengan lancang memotong obrolan beliau. “kiai Ali itu siapa kiai.?”
“ itu ayahnya kiai Sya’roni Desa sumber sere, dia dulu tokoh ulama yang bertugas mengisi jazak para pejuang NU untuk melawan PKI”
“owh, engki kiai”
“ siang hari sekitar jam satu orang-orang PKI dari arah barat berbaris di jalan utaranya rumah ini sambil meneriakkan nyayian, NASAKOM bersatu singkirkan kepala batu, mereka membawa celurit dan Palu, mendengar kabar itu sekilas di pondok Al-mardliyah menabuh pentungan sebagai tanda adanya gerakan PKI yang ingin membunuh Kiai Ali, waah masyarakat di desa ini langsung berkumpul menghalau orang-orang PKI  sambil membawa clurit dan golok, melihat orang-orang desa yang serempak mengepung , orang-orang PKI langsung buyar kesegala penjuru arah, hehehe”  sambil lalu beliau tertawa lirih, mau macam-macam bunuh tokoh ulama, ya gak dicincang masih untung mereka”
Beliau menyeruput kopi yang entah kesekian kalinya lalu menghisap rokok dengan penuh rasa nikmat, sambil lalu memandang ke arah halaman langgar.
Kurang rasanya bagi saya jika tak menayakan hal lain yang belum beliau sampaikan, sambil lalu menghisap rokok yang sudah hampir habis lantaran baranya yang berjalan kerah jari hingga dijari telunjuk terasa hangat, “ kira-kira siapa saja kiai tokoh dari para PKI yang ada di desa ini.? ”
Mendengar itu Kiai Ahmad terdiam sejenak seperti mengingat-ingat sesuatu “ hemmmm, ya dulu PKI disini tempat ngumpulnya di Desa Betes, disanalah mereka biasa mengadakan musyawarah kalau tokoh PKI di daerah sini dulu itu ya Razek dan Sumraton.”
Mendengar itu aku mengerutkan alis ternyata di desaku  juga merupakan salah satu bagian saksi dari keberadaan PKI, meskipun selama aku belajar belum pernah mendapatkan Informasi itu semua. Dari dua tokoh PKI di Desa Betes itu nampaknya Sumratonlah tokoh sentralnya. Karna Kiai sering menekankan kalu sumraton tokoh yang paling berpengaruh dalam sepek terjang Partai Komunis Indonesia itu.
Malam semakin larut dinginnya angin malam kian menusuk pori dari celah-celah dinding langggar yang terbuat dari kayu dia seolah datang pelan-pelan menyapu pori. Kami berdua sama-sama terdiam barang kali Kiai Ahmad sedang memikirkan suatu hal yang pnting bagi beliau sedangkan saya nampak terheran kalu ternyata di daerah ini menjadi salah satu dari sekian ribu mata saksi terhadap tragedi perseteruan PKI dengan berbagai elemen yang menyatakan sikap berlawanan dengan PKI. Ayam berkokok lantang seolah ingin menyampaikan kalau waktu sudah menginjak tengah malam. Namun bintang tambah berseri ditengah pesonanya, sinar bulan yang berada ditanggal tua nampak perlahan dari arah timur, lengkap sudah keindahan malam ini. Kecuali pikiranku yang masih meniggalkan pertanyaan “ kalau saja PKI itu ada bagaimana masyarakat bisa bergabung dengan partai yang seolah dipandang Tabu akibat agitasi dan propaganda elit politik.
Tengah malam sudah menaruh peringatan pada kami berdua kalau saja jam Istirahat sudah tiba, rokok tanpa tersa sudah habis begitu pula kopi tinggal ampas yang tersisa didasar gelas, ku ambil gelas kopi sambil dikocak meminum sisa sedikit, yaa ini adalah seruput kopi terakhir diujung obrolan kami berdua. Setelahnya aku berpamitan pulang, Kiai Ahmad mengantarkan ku sampai dihalaman depan, pesan terakhir beliau sambil mengantarkan ku berjalan ke halaman “ jangan sampai putus silaturrohim ful, orang suka silaturrohim akan berkah rezekinya”, takdzimku layaknya seorang santri terhadap kiai hanya menundukkan kepala sambil menanggapi kata pesangon Kiai Ahmad “ engki kiai, ngireng nyu’un etih.! ”
Aku berlalu menelusuri jalan setapak ditengah gelap. suara camar saling bersahutan disamping kiri kanan ku semak-semak nampaknya tempat yang nyaman bagi mereka untuk mengusik dan menambah mesranya malam. Embun malam sudah mulai membasahi rerumputan dijalan, sendalku terasa basah karnanya satu dua kali aku kepleset. Setelah setengah jam menempuh jarak pulang dari rumah Kiai Ahmad aku sampai dirumah, merebahkan badan dikasur setelah selesai sholat Isyak dengan beberapa hal yang masih membekas dipikiranku sekilas tentang Keberadaan PKI.
Fajar pagi kini datang mengusik para orang-orang yang masih terlelap dalam tidurnya. adzan subuh mulai berkumandang dari berbagai arah, dari arah selatan suara Adzan berkumandang terlebih dahulu setelah itu mesjid dan surau di segala arah mengikuti. Itu sudah tidak asing bagiku sejak aku masih kecil seumur usia anak SD adzan selalu dari arah selatan alasannya karena disanalah Pondok Pesantren Al-Mardliyyah, pondok tertua di daerahku bahkan katanya disana pula Prof.Mahfud MD mantan ketua Mahkamah Konstitusi dibesarkan tapi peduli apa aku padanya.
Pagi sudah menjelang, warna langit kemerahan yang tidak begitu kontras menghiasi langit di ujung timur sana. Tapi ada yang aku sayangkan pada kondisi pagi kali ini mendung ternyata menggangu jalannya langit untuk menampakkan seluruh keindahannya Dan grimis melebur menjadi satu dengan sisa-sisia embun semalam, petani nampak tidak peduli dengan kondisi pagi yang kurang baik kali ini. Mereka terus saja berlalu dengan pekerjaannya masing-masing mencangkul sawah menyambut musim tanam. Ya itulah para petani yang tiada lelah bekerja demi mencapai kebutuhan hidup dan Ibadah yang seolah enggan untuk tau urusan politik dinegara ini atau bahkan enggan untuk berfikir tentang masa lalu desa yang menjadi salah satu saksi perseteruan PKI, sementara aku sambil berdiri memandang para petani yang kian menjauh masih saja kepikiran tentang hal semalam obrolan denga Kiai Ahmad mengenai PKI. Aku lihat jam dinding sudah menginjak jam 6 saatnya beranjak dari tempat berdiam diri, tugas mulia membantu bapak dan ibu disawah memeras keringat keikhlasan.
Keringat bercampur grimis sudah membasahi badan, tanahdi pesawahan nampak enggan menolak sentuhan grimis, kemarau panjang berlalu kini saatnya musim hujan telah tiba, musim yang dirindukan para petani setelah musim panas panjang berlalu. Pada musim hujan inilah cocok tanam akan dimulai.
Bapak dengan gigih terus mencangkul sawah sejenak beliau istirahat hanya untuk menikmati kopi dan menyalakan rokok, terlihat badannya yang mulai kerontang sementara kulitnya sudah mulai kriput terdengar seru beliau ditelingaku, seru lelah yang tak lain dari padanya. Ibu masih terlihat ampuh mengganyang rerumputan untuk makan sapi di kandang. Sapi rata-rata sebagai investasi yang paling berharga di daerahku, karena ialah yang paling ampuh untuk diandalkan disaat ada kebutuhan mendesak.
Tak terasa hari sudah mulai siang, matahari terihat samar dalam tubuh mendung di posisi tengah-tengah antara barat timur , selatan dan utara. Bunyi cangkul petani mulai terdengar sebagai tanda istirahat. Semua petani nampaknya menyudahi pekerjaan untuk sementara.  Sebelum beristirahat mereka sempatkan untuk beradu pantun ditengah sawah antara petani yang satu dengan yang lainnya, terdengar menarik bagiku. Nampaknya si atmo juaranya dia orang terakhir yang membalas pantun, setelahnya para petani nampak tertawa riang mendengar pantun terakhirnya
“ aduh cekkak ongku lecang kettanah nangkah
Oreng mur dejeh tak bu ambu acuelen kratok
Aduh mak palang ongku alakoh sarah kun olle talkah
Tak jejeh reng tak jejeh tak bu ambu senorok kentok”
Mendengar itu aku tidak bisa menahan untuk tidak terbahak-bahak, tawaku lepas mengudara terbahak-bahak sama halnya dengan para petani yang lainnya, ya itu adalah pantun penutup dari si atmo, sementara yang lainnya hanya berlalu dengan tawa-tawa kecil mereka. Pantun atau oleh masyarakat di desaku disebut ‘sentelan’  sebuah kebiasaan sejak lama entah kapan itu dimulai, tapi yang pasti itu adalah tradisi masyarakat di madura. Biasanya dijadikan sebagai bahasa yang berfungsi menyampaikan pesan moral dan fungsi lainnya.
Aku beranjak menuju rumah nenek yang berada tidak jauh dari sawahku, kami duduk ngumpul berami-ramai sambil menyeruput kopi buatan nenek. Sebuah racikan khas dari seorang perempuan yang kriput dan pendengarannya mulai terganggu, Bahkan jika seandainya ada dentuman peluru mendesing seperti di Palestina dan Suriah yang menewaskan jutaan korban manusia nenekku barangkali tidak peduli dan tetap berada dalam kondisi tenang. Sementara kakek ku duduk sambil menikmati rokok Oepet dan kopi disampingnya. Beliau tidak jauh beda dengan nenek kulit kriput giginya sebagian hilang entah kemana, hanya saja beliau pendengarannya masih tajam suara Kentut nenek saja beliau masih dengar. Seperti biasanya dia selalu marah-marah apabila nenek kentut sembarangan. Namun peduli apa nenek pada amarah kakek suara peluru saja dia tidak dengar apalagi suara kakek yang tidak sekeras masa mudanya. Aku duduk disamping kakek sambil ngobrol seputar kondisi tani, tiba-tiba aku teringat hal yang terbesit dipikiranku tentang PKI.
Sengaja aku menyanyikan lagu yang biasa digunakan orang-orang PKI saat berbaris dijalan “NASAKOM bersatu singkirkan Kepela Batu”  meski aku tidak tau maksud dari sebuah lagu yang terdiri dari lima kalimat itu. Namun setidaknya itu awal pancingan obrolan yang cukup jitu untuk merangsang pemikiran kakek tapi tidak untuk nenek. Seperti apa yang telah aku harapakan usai mengulang-ulang lagu itu kakek ternyata menaruh perhatian.
“ tau dari mana lagu itu kamu”  ujarnya
Aku bilang saja tau saat di Malang ketika Dosen mengajarkan Ilmu sejarah. Sementara kakek langsung melanjutkan obrolnya sambil menghabiskan lelah sepulang dari sawah, “ itu dulu lagunya orang-orang PKI saat berjalan dengan barisannya di sepanjang jalan ini, sambil menunjuk jalan jauh di depan sana, dulu PKI pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap kiai Ali di Desa Sumber Sereh tapi percobaan itu langsung digagalkan oleh masyarakat dengan cara di kepung ditengah jalan, PKI lari terpontang panting ketika itu. Semua anggota PKI pada saat itu lari dikejar masa, ada yang dihajar dengan pohon jarak. Ya mereka terlalu berlebihan mau coba bunuh tokoh Ulama di daerah ini.”
penyampaian kakek dan Kiai Ahmad tidak jauh berbeda sedangkan Informasi yang saya butuhkan adalah berbeda, saya langsung saja tanpa basa-basi menanyakan apa yang saya pikirkan.
“ kira-kira bagaimana orang bisa ikut PKI pada zaman dulu.? ”
“ dulu kan zaman melarat, orang pada tidak punya untuk makanpun mereka sulit, jadi orang-orang PKI dulu ngadakan Acara sinden untuk memancing orang-orang datang, setelah itu dikasih makan yang enak-enak gak nanggung-nanggung mereka nyembelih sapi, orang yang hadir dikasih beras buat pesangon pulang dimakan bersama keluarga masing-masing di rumah. Ya orang gak tau itu PKI atau apa yang penting kan bagi pikiran orang dulu adalah makan dan bisa kenyang.”
“owhh, terus bagaimana nasib orang yang Cuma sekedar ikut berkumpul dan makan,?”
“ iya setelah tau mereka berhenti hadir ke acara ngumpul itu, ada sebagaian yang masih tetap datang, ya dulu zamannya masih melarat sementara orang-orang PKI berani memberikan makanan dan pesangon beras putih, kalu orang biasa kan tidak mampu untuk makan seperti itu jangankan makan beras putih, beras jagung saja tidak segampang sekarang, dulu itu makannya ubi dan singkong”.
“ owh jadi seperti itu.”
Puaslah sudah apa yang aku cari-cari dari pertanyaan yang menggangu sepanjang malam terkecuali saat aku terlelap dan hanyut dalam ketidak jelasan mimpi. Kekerasan yang terjadi antara PKI dengan para Tokoh Ulama serta masyarakat biasa sebagai tokoh ke tiga merupakan suatu tragedi yang saling menumbuhkan kebencian antara bangsa ini sendiri. segala yang telah saya dapatkan dari suara Desaku dengantulisan Wijaya Herlambang agaklah sedikit berbeda. Wijaya dalam satu bukunya yang berjudul “Kekerasan Budaya pasca -1965” terlalu menekankan pada sekelompok elit sebagai aktor , seperti kubu yang berdiri diatas poros Manifes Kebudayaan dan kubu yang berada diatas kelompok LEKRA. Wijaya menyudutkan pola pandangnya terhadap peran beberapa tokoh elit seperti peran Militer saat terjadi kudeta 30 september, PKI, dan para kaum Intelektual seperti Goenawan Muhammad yang menjadi gerbong dari masuknya arus Liberalisme yang ternyata di dalangi oleh CIA. Namun dia kurang memperhatikan peran tokoh Ulama dalam membendung gerakan PKI dan masyarakat bawah sebagai objek langsung dari pengaruh Agitasi dan Propaganda bahwa PKI adalah hal yang teramat menakutkan, najis dan menjijikan.
Persuasi elit politik pada tahun 1965 membawakan sebuah uforia yang teramat menakutkan bagi bangsa ini. Pada tahun itulah bangsa Indonesia seolah dihalalkan membunuh dan membabat habis orang-orang yang dituduh PKI. Padahal semua itu hanyalah masalah Identitas semata yang sudah disahkan dalam amanat UU 1945. Bukanlah suatu tugas siapapun membunuh sesama saudara dalam satu bangsa, membunuh hanya diperbolehkan dalam medan perangsaat keadaan tempur melawan bangsa lain yang dianggab mengancam ketahanan dan kesatuan bangsa ini, tetapi tidak membunuh sesama saudara kita sendiri.
Angin terus berhembus lirih dari arah barat sementara mendung semakin tebal saja berputar putar diatas sana, burung walet nampak berterbangan kesana kemari , daun-daun kering dipepohonan sisa kemarau gugur berjatuhan hinggab mengikuti arah angin diamana dia akan diletakannya. Hujan perlahan berjatuhan di atas atap. Tangis duka sang langit membawa kenangan haru masa lalu. Bapak , Ibu, Kakek,dan Nenek nampak menunda niatnya untuk kembali ke sawah. Terpaksa mereka berdiam seiring hujan berhenti mengguyur, ya musim hujan telah tiba dan duka lama sudah berlalu kini saatnya bangsa terus berpacu pada poros masa depan dan menjadikan duka masa lalu sebagai pembelajaran yang teramat berharga untuk menumbuhkan kembali persudaraan ditengah perbedaan. Aku menyeruput kopi hangat ditengah dingin suasana hujan dan rokok Oepet sebagai pelengkap nikmat soere kali ini.

Musim Tanam Berambang
kemarau kini telah berpulang seiring bergantinya bulan. Hujan pun menggantikan semesta terlahir dari rahim bulan januari. tetesan air mata langit itu memberi kesejukan pada rerumputan di atas bukit-bukit yang sudah sekian lama kerontang. Mendung dengan gagahnya menggantikan pesona lazuardi yang telah terbiasa dengan pesona birunya, kala hujan usai turun laron-laron berterbangan mengukir langit yang tak pernah kesampaian. Udara nampak berubah kehadirannya dengan suasana dingin. Ya kini musim hujan telah tiba, musim yang paling menyenangkan bagi anak-anak kecil penjelajah kanal karena pada saat itulah tiba saatnya untuk berburu lele dikanal yang mengalir ditengah-tengah sawah.
Lain lagi ceritanya dengan musim tanam didesaku setelah kemarau berlalu dengan kereta musim. Petanai mulai bersiap untuk menggarap sawah menyambut datangnya musim baru, seperti biasanya kala awal musim hujan para petani menyibukan dengan bercocok tanam, berambang adalah pilihan para petani diawal musim kali ini dari ujung utara desaku hingga ujung selatan hamparan berambang menjadi penghuni sawah setelah usai panen jagung. Mereka para petani terus bekerja tidak mengenal waktu, tidak peduli pergantian musim mereka hanya mengabdi pada sebuah kerja dan nilai ibadah, perkara urusan negara mereka seakan tak peduli negara mau bubar pun tidak begitu berarti bagi kehidupan mereka, negara adalah masalah lainyang tak perlu diperdebatkan disawah memperbincangkan negara hanyalah buang waktu bagi mereka, dibawah kuasa elit politik yang jauh dari peduli terhadap nasib para petani mereka tetap saja bekerja dengan ihklas, mengayunkan cangkul diatas gumpalan tanah yang bisu diasaat para elit pemerintahan sedang melakukan lobi politik, mereka tidak tahu menahu persoalan siapakah menteri pertanian, siapa menteri ketahanan pangan , mereka adalah orang awam yang menjadi pilar kokoh berdirinya negara ini, namun terkadang mereka melepaskan keluh kesah saat hasil tani tidak sebanding dengan sengsara mereka bekerja, disaat itulah mereka bertanya dengan polos apa saja yang dilakukan para menteri disana apakah mereka tidak melihat nasib kita yang tak pernah lekang dari penderitaan, kebijakan Impor pun mereka tidak paham. Sekali lagi yang mereka paham kalu mereka akan melarat menjalani hidup ketika hasil tani turun dan barang-barang kebutuhan pokok naik. Disaat itulah mereka menanamkan sikap kekecewaan terhadap pemerintah.
Grimis menghiasi suasana pagi kali ini, daun kelapa dipinggir sawah terlihat enggan untuk melambaisementara orang-orang malah sebaliknya enggan untuk diam, mereka terus saja bekerja bagaikan dikejar waktu. Seperti lumrahnya petani kali ini bapak ibuk  memilih brambang, bagi kebanyakan petani di daerahku berambang dianggab salah satu tanaman yang kondisi harganya lumayan setabil jika dibandingkan dengan tembakau, tiga tahun terakhir para petani lebih memilih berambang sebagai tanaman yang bisa diandalkan dari pada tembakau yang harganya sedang jatuh.
Meskipun terkadang harga berambang juga tidak jarang jeblok seperti dipertengahan tahun 2014 harga dirusak akibat produk impor. Petani saat itu resah karena hasil tidak sesuai dengan modal yang telah terpakai selama proses perawatan. Hampir semua sawahku terisi berambang musim kali ini nampaknya menjadi rekor baru dalam tanam berambang, saat ini adalah tanaman berambang terbanyak yang pernah dilakukan oleh keluargaku, semoga saja hasil yang memuaskan berpihak pada para petani yang bekerja tanpa mengenal usia dan waktu, mereka lebih gigih dari pada mesin di Pabrik-Pabrik Industri, mereka tidak butuh bahan bakar untuk berjalan, tidak pula butuh sistem upah seperti buruh di pabrik-pabrik yang terkadang gaji mereka masih bermasalah. Meraka adalah para Marhaenis. Para petani di desaku hanya bermodal tekad dan do’a. Mesi tidak jarang nilai kerja mereka jauh dari imbang. Berambang menjadi harapan besar bagi masyarakat didesaku semoga saja sirkulasi harga pasar tidak menindas hasil kerja mereka. Berharap besar bagi negara menjadi sebuah hal nihil bagi seorang petani di desaku negara akhir-akhir ini hanya direpotkan soal transaksi saham PT.FREE PORT belum lagi soal perseteruan di kubu DPR yang tak kunjung usai. Padahal nasib para petani jauh lebih penting untuk dibahas dimeja kabinet sana, karena ditangan para petani itulah nafas negara dipertaruhkan.

Romantika Senja di Pelabuhan
entah dari mana aku harus memulai ini semua. Sebuah penggambaran keindahan yang tak benar-benar mewakili keindahan yang aku rasakan. Gelora cinta kian menemukan sebuah cawan kerinduan dalam sebuah perjumpaan antara dua insan yang berada  diatas satu pacuan romantika. Gelombang ombak berayun mesra ketepian pantai seolah mereka berjalan beriringan setelah satu berlalu datanglah yang lain dari belakang menyapa lembut pasir yang terdiam dalam kekauannya. Angin pantai nampak mendesir lirih, daun-daun kelapa nampak berayun mesra menari-nari dengan begitu lembutnya. Suasana pelabuhan dibawah awan yang nampak berpihak pada sisa-sisa musim kemarau. Nun jauh dari sudut langit barat  terlihat lautan yang kian menyatu dengan dinding langit, mentari perlahan ingin menjatuhkan langkahnya ke dasar lautan. aku terus berjalan diatas arah setapak ke utara.  Menikmati sepanjang pelabuhan membentang, pelabuhan Pasean yang tak kunjung selesai pembangunannya sejak tahun 2011 lalu. Pelabuhan yang menjadi harapan besar masyarakat pasean belum mendapatkan kepastian kapan akan mulai diopersikan. Legalisasi pelabuhan ini menurut masyarakat setempat ada di bawah kuasa Mantan Kepala Desa Batukerbuy yang kini telah menjabat ketua DPRD. ya begitulah di daerahku loncatan jabatan begitu mudah cukup bermodal uang, mempunyai kedekatan dengan para orang bejing dan para Kiai, ketiga hal itu sudah cukup dijadikan alat sebagai justivikasi terhadap kekuasaan seseorang yang berkuasa, tidak peduli apakah orang itu terpelajar atau tidak, jujur apa tidak itu persoalan belakang karena yang terpenting adalah seberapa jauh memiliki uang dan modal sosial dengan para blatir dan Kiai, jika ketiga hal dapat dimiliki maka sudah niscaya kekuasaan dapat digenggam. Tapi peduli apa aku dengan tokoh yang suka memeras rakyat itu. Senja terus menampakan keindahannya dengan lembayung yang memanjang diujung lautan cahaya sore nampak bias diatas gelombang yang berayun lirih. Bunga bahagia kini nampak mekar perlahan di dasar hatiku. Sementara nabila tersenyum malu bila kejatuhkan pandang terhadapnya. Gadis cantik jelita yang menjadi pusaran musim disepanjang jalannya waktu, ia semi yang jatuh saat musim dingin telah berpulang ditelan waktu yang abusrd, senyum manis itu menjadi tumpuan yang tak berdasar untuk mengakui ke elokannya, kala ia tersapu malu saat tatapanya jatuh dipandanganku pipinya merah merona bak buah delima yang sudah cukup usia. Namun sayangbelum saatnya aku petik manisnya karna norma manusia lebih kejam dari pada panjangnya perputaran musim untuk menghasilkan buah delima.
Aku ajak dia duduk dipinggir pantai setelah lelah mengarungi luasnya keindahan di pelabuhan. Perjumpaan yang sangat mengindahkan segalanya tiada satu kata kata yang bisa menjadi pengibaratan darinya. Hamparan pasir seolah menatap haru melihat perjumpaan dua insan yang tengah dimabuk rindu berkepanjangan, setalah sekian lama waktu merebut raga di bawah perputaran musim yang berkepanjangan akhirnya jalan pulang memanggil kami di bawah satu romansa cinta. Ia ibarat hawa dalam awal kisah perjumpaannya dengan adam, limaratus tahun menjadi jalan cinta yang mengindahkan rindu untuk selalu bertuah disepanjang pencarian.hingga pada akhirnya di bukit Jabal Rahmah mereka dipertemukan. Pertememuan cinta setelah berlabuh dari perjalanan panjang ibaratkan sebuah senja yang merindukan semi ditengah perputaran musim lalu keduanya berpacu mesra saat mentari membiaskan warna jingga sementara bunga-bunga tulip menjadi pena keindahan diantaranya. Nabila tidak berbicara sedikit pun terkecuali aku yang memulainya , ya barang kali dia masih tertegun manisnya sebuah perjumpaan atau jiwanya masih belum percaya kalau saja takdir menghadirkan kita berdua disatu ruang romansa. Wajahnya indah nian bulan pun akan menghadirkan rasa cemburu lantaran dia tidak lagi menjadi objek khayalku saat pusi kuhadirkan diatas kertas. Bibirnya merah berseri laksana eloknya bunga sakura saat dipuncak keindahannya. Dosakah pertemuan ini, tuhan pun akan mengerti saat kekuatan cinta mengalahkan rasa takut terhadap segalanya termasuk dosa itu sendiri.
Entah dari mana awalnya tiba-tiba tanganku menggepal tangannya yang lembut, halus ibaratkan sebuah kain  sutra, lembut lebih dari pada bulu anak merpati.  Dia tersenyum manis, entah kesekian kalinya aku tersipu oleh manis wajahnya, gadis yang halus budi pekertinya, kesetiannya membuat aku terkurung dalam satu ruang hati, hati yang olehnya aku diikat dalam sebuah khayal kesetiaan. Tiba-tiba gadis itu bersuara dengan sendirinya, suara yang lembut nian mampu membungkam suara debur ombak ditepian pantai, ya hanya suaranya yang aku perhatikan kala ia  berbicara.
“ mas, apakah sampean bahagia bersamaku.?”
“ iya tentu nabila, aku bahagia menjali ini semua, pahit derita dan manis bahagia adalah jalan yang telah mendewasakan kita, kenapa sampean menanyakan hal itu,?
“ mas dibalik bahagia pertemuan ini, akan ada sebuah derita yang telah setia menunggu kita.?
Serasa dicabut semua romansa sore kali ini mendengar kata-katanya, pikiranku enggan untuk diam, ayolah sayang jangan terlalu tergesa untuk menyudahi bahagia yang masih seumuran kecambah ini.
“ derita apa nabila.?
“ derita perpisahan mas, bukankah takdir kita ibarat bunga tulip yang berwujud dari pucuknya saat semi datang.!”
“ tidak sayang, takdir cinta kita adalah takdir bungan keabadian, ia selalu terjaga di sepanjang jagat bergerak.”
Tiba-tiba dia memeluk ku dengan matanya yang berkaca-kaca “ saya terkadang tiada kuasa mas ketika rindu menjadi satu-satunya sumber pengharapan untuk selalu bersanding bersama”
“ nabila kita baru saja bertemu setelah jalan panjang yang melelahkan, percayalah kita akan selalu bersama dalam satu titik bahagia.”
Kami berdua terdiam nabila masih saja enggan melepaskan pelukannya, kurangkulkan lenganku dibahunya, kini kami menyatu dalam satu rasa yang bercampur segalanya. Rasa bahagia karena bisa bersama dalam jenjang waktu yang singkatdan rasa duka akan perpisahan yang menghantui.
Jauh di ujung sana ada sekelompok orang mereka selalu menjatuhkan pandang pada kami, ah sialan ujar hatiku. Merusak bahagia yang masih seumur kecambah saja. Beginilah keadaan negeriku ingin bertemu saja kena pajak perjumpaan, sementara para elit birokrasi sana malah ngorup uang pajak, meskipun pajak asmara tidak legal tapi ia adalah ongkos yang  paling menentukan  untuk keamanan. Sialan.!

Romantika Terminal dan Puisi perpisahan.
Sembilan belas hari berlalu. Mengadirkan banyak kisah yang berada diatas pacuan siang dan malam. Kini waktu telah menyeret ku untuk segera meniggalkan kampung halaman. Dan berlalu di ladang masa depan, kuliah terkadang menjadi hal yang membosankan ketika ia dijadikan afirmasi penentuan masa depan yang seolah lebih baik. Padahal hidup di negaraku tidak semudah itu, banyak ribuan pemuda yang lulus dari kampus menjalani nasib yang tidak jelas, ya hampir-hampir para sarjana tiada nilai lebihnya dibandingkan tukang bakol-bakol soto. Pemerintah belum maksimal menyediakan lahan pekerjaan,  hukum evolusi ala Darwin adalah hal yang bisa dibenarkan dinegri ini, siapa yang mampu menjalani persaingan maka dia yang akan bertahan. Untuk mendapatkan pekerjaan tidak butuh mereka yang pintar dengan IPK 3,5 ke atas itu hanya hukum hayalan yang diciptakan akademik, tapi kecerdikan dan kelicikan membaca peluang adalah hal yang justru utama dalam mencapai hasil. Di negeri yang congkak ini berprilaku jujur akan berujung pada nasib yang mengenaskan. Sehingga wajar , semua komponen masyarakat di negeri ini pandai bermain Intrik, mulai dari tataran birokrasi hingga tataran pengemis pun tidak lepas dari intrik.Gaya lirikan yang penuh daya mematikan. Jangan pernah berharap lebih pada kejujuran jika masih ingin meneguk manisnya sebuah kehidupan di negeri seribu kepicikan ini.
Pagi yang cerah dengan kicau burung petit di atas ranting pohon kenari menjadi Instrumen perpisahan kali ini, aku sempatkan menyuruput kopi hangat buatan Ibu, sebuah kehangatan kasih sayang yang tiada perbandingannya. Nampak dari kejauhan para petani sedang menggarap tanah seperti biasanya keringat mengkilap dipunggungnya seolah menolak terik matahari terserap kedalam badan.  Langit nampak bulat dengan cahaya cerah birunya, awan-awan putih bergerak pelan kearah timur sementara mendung dari kejauhan sana terlihat menyapu separuh langit. Daun-daun kering dari ranting berjatuhan lerih di halaman rumah. Sementara sapi dikandang belakang terus berbunyi seolah enggan untuk melepas kepergianku. Resah bercampur gelisah direlung hati tidak bisa aku lepaskan. Sebuah tanah kelahiran yang membesarkanku dengan berjuta kenangan masa lalu. Terdengar suara kaki yang khas dari arah belakang. Tidak lain suara kaki yang dibawahnya bernaung letak surga, ia adalah ibu.
“ jangan malas belajar ya, cepet lulus jangan seperti mas mu. Jangan lupa pula sering-seringlah beri kabar ke ibu nak,”
Itu pesan normatif dari seorang ibu aku hanya bisa mengiyakan titipan berharga beliau, tidak malas belajar dan cepat lulus, teringat sepintas dibenak tentang saudara tertua, mas Muslim kakak tertua dari tiga bersaudara, lulus kuliah setelah suskses menempuh empat belas semester, banyak cerita berharga yang telah diteguknya mulai dari karir akdemik hingga statusnya menyandang sebagai aktivis Pergerakan Malang, tak lupa karir Asmaranya yang kandas dengan ujung memilukan. Semoga saja dia sukses di pulau rantau sana.
“ engki buk, insyaallah tinggal satu tahun setengah saya lulus, mohon do’anya”
“ kalau do’a tanpa kamu minta ibuselalu memohon pada yang maha kuasa nak “
“ inggeh buk.”
Bapak bergegas dari pekarangan rumah menyudahi pekerjaannya, sisa-sisa tanah masih menempel di sela jarinya“ sudah siap mau berangkat.?”
“inggeh pak,’
“ jangan lupa minum segelas air yang ada di lemari itu, mudah-mudahan keselamatan menyertaimu, jangan lupa kalau ada senggang waktu berkunjunglah ke rumah pak de mu, biar ada yang mewakili keluarga dari sini untuk menjaga tali silatuurohim.”
“ inggeh pak, insyaallah”
Ibu menghampiri ku mendekap tubuhku yang kerontang. Ini adalah pertama kalinya aku meresakan dekapan tubuh seorang penyayang. Setelah masa kecilku berlalu, “ jangan nakal di Malang, bertemanlah dengan orang-orang yang istiqomah dalam meraih ridho Allah. Semoga nasib baik selalu ada untuk mu, ingat cepet lulus. Ujarnya. Perlahan dia melepaskan pelukannya sembari mengusap ubunku, sementara bapak membawa tas ku ke depan pintu, kesedihan datang berlabuh dengan tiba-tiba entah dimana letaknya. Adek perempuanku dia sudah berangkat lebih awal kesekolahnya. Ada yang kurang rasanya.
Saudara sepupu sudah datang untuk mengantarkan kepergianku. Rasanya jiwa ini masih ingin bertuah ditanah kelahiran sementara tubuh terus saja melangkah menjauh pergi dari halaman, inilah saat kondisi jiwa dan tubuh tidak sepakat dalam satu langkah.
Perlahan aku berlalu meninggalkan rumah sambil menoleh ke belakang , bapak dan ibu masih saja berdiri di depan pintu menyaksikan kepergianku aku terus saja menaruh pandang di sekitar rumah hingga jarak menelanku dalam kejauhan. Sambil lalu menempuh perjalanan dari desa ke kota kabupaten aku menikmati pemandangan disekitar perjalanan, semak-semak belukar dipinggir jalan hingga pebukitan nun jauh di daerah utara orang terbiasa menyebutnya gunung waru, meskipun pada nyatanya merupakan sebuah perbukitan kapur yag menjulang tinggi. Jalan terus berkolek mobil taksi yang ditunggangiku berjalan pelan dengan kecepatan enam puluh kilo meter per jam. Terkadang mengurangi hingga dua puluhkilo meter per jam, wajar akses jalan dari desaku yang terletak di ujung utara menuju pusat kebupaten sangat tidak mengenakkan, hampir tiga puluh kilo jalannya rusak, sampi-sampai kebanting didalam mobil berayun-ayun hingga kepala terbentur ke kursi depan, entah kemana uang pembangunan khusus daerah , barangkali sudah masuk kantong para birokrat untuk pembangunan rumah tangga masing-masing. Setelah menempuh satu jam perjalanan dari desa ke kota akhirnya tibalah diterminal, tempat menunggu bus jurusan surabaya.
Jurusan bus surabaya datang dan menempati parkir, aku masih saja duduk di tempat tunggu, sambil menanamkan harapan agar seseorang yang aku tunggulekas tiba. Jantung pengaharapan masa depan begitulah aku menyebut seseorang itu. Nabila kapankah kau akan datang diakhir perjumpaan kali ini.
Janji ku terhadapnya semalam menjelang tidur akan menunggunya diterminal sebelum pergi, hanya insyaallah jawaban yang aku dapatkan dari padanya. Berkali-kali aku kirim pesan lewat smz tapi tiada sekalipun ia memberikan jawaban. Bus pertama jurusan surabaya sudah berangkat aku masih saja dengan setia menunggunya.
Disela-sela penungguanku tiba-tiba hand phone bergetar aku lihat ada smz. Namun sayang bukan dari nabila melainkan smz dari nomor 808 yang isinya “ jangan sampai ketinggalan gapakai  iring gratis dr five minutes-Miss U Love U , cukup bales YA. Entahlah tidak penting untuk dipikirkan, suara jiwaku masih saja berharap ke datangan nabila, mataku tidak pernah lepas untuk memperhatikan orang-orang yang datang keterminal, sekali dua kali melihat perempuan yang bergaya mahasiswa terkadang aku berfikir itukah nabila, tenyata masih belum tepat. Bus kedua datang dan menempati parkir jurusan surabaya aku masih saja menahan langkahku untuk berangkat, lama nian ia tak kunjung datang menuggunya ibarat menanti datangnya hujan dari mendung yang keburu di hempas angin. Setelah sepuluh menit parkir bus itu berangkat aku hanya mengikuti dengan pandang dari belakang hingga hilang bersama pacuan roda. Lelah menunggu balesan,aku coba telfon ia berkali-kali tapi nomornya sedang tidak aktif.  Orang-orang datang berlalu lalang datang dan pergi dengan Tas besar nampaknya meraka akan menempuh perjalanan jauh, barangkali ke Jakarta pikirku karena hampir rata-rata daerah rantau masyarakat di daerahku adalah Jakarta dan sekitranya seperti Bandung, Semarang, hingga Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa. Bus ketiga sudah tiba nabila masih saja belum datang dan tidak ada kepastian. Resah bercampur gelisah kian memuncak di dadaku kecewa nampak nian bergejolak begitu kuatnya sesekali istigfar “ astaghfirullah, nabila dimana kah kau sembunyikan dirimu, ayolah waktu sudah tak banyak berpihak pada kita”  jam sudah menginjak waktu siang tapi nabila masih berjalan diatas petang dan tak kunjung datang. Bus ketiga pun berlalu menempuh perjalanan ke surabaya. Aku masih dengan setia penuh rasa pengharapan menunggunya untuk memberikan senyuman diakhir perjumpaan.
Rokok nampaknya sudah habis lima batang. Lebih dari dua puluh delapan kali aku menelfon dan tiga puluh kali smz, namun tiada satupun belesan darinya, kini mungkin saatnya aku pergi tanpa bekal darinya, sebuah kepergian yang meyisahkan kecewa sebagai jejak dihari-hari yang akan datang. Aku kirim smz terakhir padanya “ nabila disisni aku menunggu mu dengan setia bersama senyum orang-orang asing yang berlalu lalang didepan ku, sudah sekian jam aku menunggu kehadiran mu namun tiada kau tunjukan sedikitpun. seandainya kau rela memperlihatkan bayang mu maka akan ku tunggu sebagai penawar harapan yang terlanjur kutumpahkan diakhir penantian. Nabila jika ini bukanlah ruang bagi kita untuk memepertemukan haru lantaran hati yang sedang dirundung pilu maka bagiku ini semua tidak lain dari benih kekecewaan yang tumbuh akan karenamu, terimakasih nabila telah melepas kesabaranku dan menggantikannya dengan kecewa sebagai bekal perjalananku.
Bus terakhir sudah melewati gerbang belakang dan tiba ditempat parkir. Aku angkat tasku dan perlahan melangkahkan kaki sambil tidak pernah lupa untuk menoleh kanan, kiri dan belakang barangkali nabila datang sambil berlari pelan bak film di senetron alay.  Ternyata dia tidak kunjung datang, didalam bus aku masih saja menatap sekitar keadaan diterminal memperhatikan orang satu persatu yang datang namun juga bukan nabila. Ah gila nian keadaanku saat nabila menjadi jantung pengharapan diujung perpisahan ini. Waktu 10 menit berlalu sopir bus akhirnya menghidupkan mesin tentu saja  ini adalah tanda perjalanan menuju surabaya akan segera dimulai. Didasar hatiku semua rasa berkecamuk tidak karuan ingin rasanya aku melangkah kedepan menyuruh sopirnya untuk memperlambat pemberangkatan hingga nabila datang untuk ku. Tapi itu tidak mungkin, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah berdiam diri dengan kekecewaan yang membungkam bahagiaku dan sejuta emosi yang mengalir disekujur tubuhku. Perpisahan yang menyisahkan beribu sesal dan apalah arti sebuah awal kebahagiaan jika garis kahir yang kita capai adalah sebuah penderitaan, selamat tinggal nabila.

Sebuah Puisi Kekecewaan.
Telah gugur mesra cinta seiring derita yang kian membunga
Apalah arti sebuah awal kebahagiaan jika garis akhir dari sebuah perjalanan adalah penderitaan.
Adakah penawar itu jika racun sudah menjalar dan mematikan saraf nadi untuk berdenyut.
Jika ada tunjukan jalan itu, biar kupetik satu tangkai untuk kugenggam ditangan yang sudah tidak kuasa merasakan perih dan diotak yang sudah tidak kuasa mengingat bahagia.
Dingin  dekap perih yang bertaburan sepanjang musim tak kuasa bertuah kaku disepanjang luka.
[1]  Ini rokok nya ful kalu mau, kalau saya sangat mantab rokok seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar