Rabu, 27 Januari 2016

Media Sosial sebagai Senjata Mahasiswa Era Post Modernisme

Media Sosial dan Gerakan Mahasiswa
Mahasiswa adalah sebagian kecil dari generasi muda Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuannya di Perguruan Tinggi. Sangat diharapkan mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dalam pendidikan agar kelak mampu menyumbangkan kemampuannya untuk memperbaiki kualitas hidup bangsa Indonesia yang saat ini belum pulih sepenuhnya dari krisis yang dialami pada akhir abad ke20. Mahasiswa mempunyai peran penting dalam mengubah negeri ini . Peran mahasiswa tak luput dari sejarahnya yaitu mulai masa penjajahan sampai pasca reformasi. Tuntutan zaman telah mengubah pola pikir mahasiswa dan perilaku mahasiswa itu sendiri, seperti pada era orde lama mahasiswa hanya dibungkam oleh isu-isu sekitarnya dan seperti pada era reformasi yang bisa menggulingkan Rezim pada saat itu pula karena tuntutan keterbukaan (demokrasi).
Postmodernisme dipahami sebagai paradigma dalam berbagai ilmu sosial seperti arsitektur, budaya, desain dan pergeseran gaya hidup masyarakat sosial saat itu (Harvey, 1935), Postmodernisme ditandai dengan adanya sistem kapitalisme dan penggabungan budaya serta wilayah, dampaknya adalah semakin sempitnya dunia ini untuk melakukan sebuah tindakan, orang-orang cenderung apatis terhadap politik dan merasa ideologi-ideologi seperti komunis dan kapitalis sudah tidak bisa di pakai pada zaman itu. Fenomena-fenomena pada postmodernisme ini yang dilakukan pada mahasiswa zaman sekarang dengan adanya fenomena media sosial sebagi gerakan mahasiswa. Berbeda pada era sebelumnya yaitu dari orde lama sampai reformasi, dimana gerakan mahasiswa lebih intens terjadi melalui aksi turun jalan, gerakan postmodernisme ini lebih dikemas apik menggunakan media sosial, seperti facebook, twitter, line instagram dsb.
Secara menyeluruh gerakan ini akan tersebar dalam waktu yang singkat dan issu tersebut akan cepat meningkat disbanding pada gerakan yang 1 Salim Dan Sukadji, Sukses Belajar Di Perguruan Tinggi.

Pengggunaan Opini Publik Pada Media Sosial Hari Ini
Opini publik merupakan Kumpulan pendapat individu terhadap masalah tertentu yang mempengaruhi suatu kelompok orang-orang (masyarakat). Dalam opini publik dibutuhkan beberapa issu-issu untuk menjadikannya tersebar luas. Menurut Olii (2007:20), publik  merupakan kelompok yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui alat-alat komunikasi, seperti pembicaraan-pembicaraan pribadi yang berantai, melalui desas-desus, melalui surat kabar, radio, televisi dan film. Ala-alat penghubung ini memungkinkan “publik” mempunyai pengikut yang lebih luas dan lebih besar jumlahnya. Publik dapat didefinisikan sebagai sejumlah orang yang mempunyai minat, kepentingan, atau kegemaran yang sama.
Oleh karena itu, opini publik sendiri menurut William Albiq (dalam Olii 2007:20) adalah suatu jumlah dari pendapat individu-individu yang diperoleh melalui perdebatan dan opini publik merupakan hasil interaksi antar individu dalam suatu publik. Jika dilihat dari segi ilmu komunikasi, opini publik merupakan tindakan komunikasi yang mana membawa persoalan kepada orang-orang dengan harapan akan memperoleh tanggapan atau umpan balik. Sedangkan media massa sendiri muncul pada tahun 1900-an diikuti oleh satu pola perkembangan industri yang diduplikasi, mengikuti setiap “revolusi” berikutnya dalam teknologi media. Setiap kemunculan teknologi media baru mengganggu stabilitas media yang sudah ada, memaksa dilakukannya restrukturisasi dalam skala luas dan terjadinya perubahan yang cepat (Davis & Baran: 61).3 3
Salah satu contoh dalam pembentukan opini pada mahasiswa yaitu dengan gempar-gemparnya media sosial mereka gunakan dengan isu-isu disekitar mereka. Seperti contoh yang terjadi pada Universitas Brawijaya baru-baru ini adalah keterlambatan pembagian jas almamater bagi mahasiswa baru 2015. Dimulainya isu ini dikarenakan banyak mahasiswa baru yang menulis status media sosial baik itu facebook, twitter, line instgram, BBM dan media sosial lainnya tentang keadaan kampus dan psikologi mahasiswa akibat keterlambatan mendapatkan almamater. Dengan begitu banyak oknum-oknum yang mengatas namakan Universitas Brawijaya yang tergerak dengan isu tersebut, tak lama kemudian hanya dalam waktu sehari birokrat kampus langsung memberikan tanggapan perihal itu.
Tidak itu saja, bahkan di kampus-kampus lain sering terjadi peristiwa yang semacam itu . Padahal jika kita analisis secara intensi, gerakan-gerakan mahasiswa pada saat itu hanya sebatas opini publik semata belum sampai pada puncaknya, namun sudah mampu untuk mempengaruhi kebijakan dan mempengaruhi keputusan pihak birokrat kampus melalui gerakan-gerakan propaganda di media sosial.
Menurut Antony Mayfield, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang membagi ide, bekerjasama dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berpikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan dan membangun sebuah komunitas. Sementara jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bis membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain facebook, myspace, plurk dan twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisispasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut tumbuh dengan pesat. Demikian cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia (Ramadhansyah, 2012).
Pandangan masyarakat terhadap suatu permasalahan di negeri kita pun tidak terlepas dari peran media. Peran media menjadi sangat vital karena bertanggung jawab dalam membentuk opini masyarakat. Opini yang berkembang di masyarakat akan menjelma menjadi sikap dan mentalitas dari masyarakat itu sendiri. Sebuah pemikiran yang tersampaikan pada masyarakat akan menjadi dasar bagi tindak-tanduk masyarakatnya.
Maka, media memiliki pertanggungjawaban yang besar dalam upaya membangun bangsa, minimal pada tahap pemikiran. Jika medianya sendiri sudah tidak memerhatikan kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku, bagaimana dengan opini yang berkembang di masyarakat? Tentu secara tidak langsung akan banyak terpengaruh oleh media.


  • Daftar Pustaka
Novia Ika Setyani Dkk, Penggunaan Media Sosial Sebagai Sarana Komunikasi Bagi Komunitas (Studi Deskriptif Kualitatif Penggunaan Media Sosial Twitter, Facebook Dan Blog Sebagai Sarana Komunikasi Bagi Komunitas Akademi Berbagi Surakarta) Dalam Jurnal Komunikasi Hal 7-8
I Gede Titah Pratyaksa, “Peranan Media Massa Dan Opini Publik Dalam Membangun Isu-Isu Kontroversial”, Dalam Artikel Pada Http://Download.Portalgaruda.Org/Article.Php?Article=117614&Val=5418, Hal 2
(Jogjakarta: Jalasutra, 2006) Hal 22 2 Renny Candradewi, Modernism Dan Postmodernisme “Review Tulisan David Harvey”, Dalam Jurnal Issue Vol 1/No.04/March 201, Hal 1 dilakukan pada era sebelumnya. Masyarakat yang sekarang sudah ketagihan dengan kecanggihan teknologinya akan berkutat pada teknologi tersebut.
Penulis, Nazil Affifatun Nikmah
Mahasiswa Ilmu Politik 2013
Editor : Yayan Hidayat
Biro II PMII Rayon Pancasila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar