Kamis, 15 Oktober 2015

Kegalauan Mahasiswa: Manusia Intelekual atau Manusia Budak?

Mahasiswa sering dijuluki dengan manusia pengubah sejarah keadaan sosial politk suatu negara, tak terkecuali Indonesia. Sejak tahun 1908, berdirinya Organisasi Budi Oetomo menjadi awal motor kebangkitan para pemudanya terutama mahasiswa Indonesia untuk mengubah nasib dari bangsanya. Yang pada saat itu Indonesia dijajah oleh Belanda. Mereka bertekad, bersatu bersama-sama untuk mengusir kolonial untuk angkat kaki dari bumi pertiwi. Kepekaan dan rasa empati mereka terhadap bangsanya yang dijajah sangat tinggi karena kesengsaraan masyarakat pribumi waktu itu. Pada akhirnya tahun 1928, para pemuda berkumpul dan mendeklarasikan Sumpah Pemoeda untuk bangsa Indonesia. Masih teringat dalam benak kita tentang isi dari Sumpah Pemoeda yang sangat mencintai negaranya, rasa nasionalisme yang besar, yang timbul dari kepekaan dari permasalahan yang terjadi di Indonesia. Mereka bercita-cita agar Indonesia keluar dari belenggu jeratan kolonialisme dan imperialisme.
Berlanjut tahun 1960-an, seorang mahasiswa yang sering kita kenal dengan buku yang berjudul “Catatan Seorang Demonstran” di pasaran, Soe Hok Gie. Seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang menolak dan menentang kemunafikan rezim orde lama yang dipimpin oleh Soekarno. Dengan idealisme dan keintelektualnya, dia memiliki cita-cita untuk bangsanya sangat tinggi, dia menuntut keadilan sosial bagi masyarakat pribumi yang pada waktu itu perekonomian sangat buruk. Indonesia berada pada titik bawah dalam hal ekonominya, sehingga menimbulkan banyak kemiskinan, kriminalitas, dan kesengsaraan hidup pribumi. Lagi-lagi mahasiswa menjadi motor penggerak perubahan pada waktu orde lama semenjak kemerdekaan Indonesia. Tahun 1998, menjadi tahun yang bersejarah yang tak bisa kita lupakan dalam benak kita. Sejarah tentang mahasiswa dan reformasi yang menginginkan Soeharto, Presiden di zaman orde baru untuk turun dari jabatannya. Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di Indonesia -Inflasi, Ekonomi Menurun, Korupsi, Kolusi, Nepotisme, Pemimpin yang otoriter, berkuasa selama 32 tahun dengan kekuatan militernya- menjadi keresahan masyarakat Indonesia pada waktu itu. Seluruh lapisan masyarakat Indonesia tak terkecuali mahasiswa bersatu, berkumpul membentuk sebuah aliansi yang bertekad untuk menggulingkan Soeharto dan mengubah Indonesia menjadi negara yang demokrasi. Pada akhirnya 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatannya dan perubahan Indonesia menuju demokrasi di mulai dan memciptakan zaman yang sering kenal dengan zaman reformasi yang kita rasakan sampai sekarang.
Lantas mahasiswa di era reformasi ini seperti apa ?? Pertanyaan yang seharusnya menjadi pertanyaan kita semua sebagai mahasiswa, kegalauan kita bersama yang menjadi titik kebingungan kita. Semenjak kejadian tahun 1998, mahasiswa Indonesia mulai kehilangan akan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah sosial maupun politik negeri ini. Mereka banyak menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan, ngumpul dan ngobrolin hal-hal yang tidak jelas dll. Tak hanya itu saja, dengan adanya peraturan Menteri Pendidikan yang membatasi jangka waktu kuliah selama 5 tahun menjadi faktor yang menimbulkan mahasiswa semacam dikejar dead linekuliah lulus cepat. Sehingga menimbulkan rasa untuk berlomba-lomba lulus cepat dan mendapat Indeks Penilaian Komulatif (IPK) yang tinggi dan enggan untuk peka terhadap masalah sosial dan politik negeri ini. Hal inilah yang patut kita hindari sebagai seorang mahasiswa. Faktor tersebut-lah yang akan menghilangkan peran dari seorang mahasiswa itu sendiri. Masih ingat dalam pikiran kita peran dari mahasiswa –Agent of Change, Social of Control, Iron Stock– akan luntur dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Sangat disayangkan bagi seorang mahasiswa yang memiliki intelektual, idealisme, memiliki peran yang begitu sentral bagi bangsa kita, manusia yang bisa mengubah arah bangsa kita, akan hilang begitu saja.
Mahasiswa sekarang dihadapkan dua pilihan yang membuat dilema pada dirinya sendiri. Apakah kita masih patut untuk disebut sebagai manusia yang ber-intelektual atau manusia yang diperbudak untuk lulus cepat ??. Melihat realitas sekarang, mungkin hanya sebagian mahasiswa yang masih peduli akan keadaan sosial politik, masih tahu akan peran mahasiswa seperti apa dan mereka-lah mahasiswa yang bisa dikatakan sebagai manusia intelektual yang masih berpegang teguh pada idealisme-nya dan menggunakannya untuk menyikapi permasalahan bangsa ini. Memang sulit menemukan mahasiswa di era reformasi ini, mengingat zaman semakin maju, teknologi semakin canggih, yang membuat mereka enggan untuk menjadi mahasiswa seutuhnya. Dan mahasiswa yang paling terlihat sekarang adalah mereka yang seakan-akan menjadi budak dari orang borjuis kampus yakni dosen. Mereka dididik, dibina, diajarkan untuk cepat lulus dengan IPK yang tinggi dan kerja. Dengan hanya bermodalkan datang kuliah, kerjakan tugas, melihat power point dosen, nilai IPK yang tinggi mudah untuk didapatkan. Tidak hanya itu, mahasiswa juga akan berlomba-lomba untuk mendekati dosen, menjilat dengan muka yang menyakinkan didepan mata dosen, dengan cara itu mereka akan mudah untuk mendapatkan nilai IPK yang bagus. Mereka tidak pernah memperdulikan ilmu yang mereka dapat, melainkan nilai IPK-lah yang mereka tunggu dan pedulikan. Karena IPK seolah-olah mewakili ilmu yang mereka dapat. Hal ini-lah yang seharusnya dihapus dalam pikiran mahasiswa zaman sekarang.
Kalau mahasiswa sekarang dikatakan sebagai manusia budak, tidak ada bedanya kita dengan buruh pabrik, seakan-akan kita tidak memiliki intelektual dan idealisme, kita hanya mahasiswa yang kuliah di universitas ternama di Indonesia tapi outputnya kita dididik untuk menjadi seorang buruh. Lantas peran mahasiswa yang sejatinya menjadi Iron Stock tidak ada gunanya lagi. Padahal arti tersebut sangat jelas kalau mahasiswa dididik untuk menjadi penerus generasi bangsa dan pemimpin bangsa. Bukan malah dididik untuk mengejar nilai IPK yang bagus, lulus, lalu menjadi buruh. Seolah-olah peran mahasiswa selama ini hanyalah label yang bisa dibanggakan setiap mahasiswa ketika ia baru masuk ke dalam bangku perkuliahan. Dari hal ini-lah kita harus memahami bagaimana peran mahasiswa sebenarnya, bukan malah mahasiswa yang hanya mengejar nilai IPK tapi ilmu tidak dianggap penting. Hapus mindset kita sebagai mahasiswa yang selama ini hanya memikirkan nilai IPK saja lalu kerja dengan nilai gaji yang tinggi. Kita belajar di kampus untuk mencari ilmu bukan mencari nilai. Kita menjadi mahasiswa dididik untuk menjadi pemimpin bangsa bukan menjadi buruh atau budak. Kita sebagai mahasiswa yang memiliki peran mahasiswa bukan hanya sebagai label saja tapi jadikan sebuah mandat yang diamanahkan untuk dijalankan. Jangan takut menjadi mahasiswa yang lulusnya telat tapi mereka memiliki ilmu yang banyak. Jangan takut menjadi mahasiswa yang dicap sukanya demonstrasi di jalan tapi mereka tahu apa yang mereka lakukan dengan keintelektualnya ketika beteriak membela kaum tertindas. Jangan hanya berdiam diri duduk di bangku kuliah seolah-olah tidak mengerti apa-apa, buta dan tuli akan permasalahan negeri ini tapi bangkit-lah menjadi mahasiswa seutuhnya.
Jangan bertanya IPK kita berapa, tapi tanyalah berapa banyak ilmu yang kita dapat sewaktu menjadi mahasiswa. IPK hanya-lah reward subyektif yang berbentuk ijazah dan ijazah itu akan hilang dengan sendirinya dilengkang oleh waktu, tapi ilmu tidak akan pernak hilang sampai akhir hayat kita.
Penulis: Erry Ike Setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar