Rabu, 16 September 2015

Merancang Arah Baru Gerakan Mahasiswa

Kiprah mahasiswa di era reformasi dibenturkan dengan sebuah konstelasi sosial yang abstrak, peliknya persoalan bangsa yang berkaitan erat dengan maslahah umat tak kunjung menemukan garis akhir, proses dialektika dalam perjalanan bangsa indonesia semakin mengarah pada sebuah hasil sintesis yaitu degradasi moral, peran kaum intelektual di gelanggang sosial-politik kini semakin mengkerut dan kehilangan arah juangnya, oleh karena itu, skeptisisme terhadap peran mahasiswa menjadi konsumsi pemikiran masyarakat, terdapat berbagai macam persoalan yang melatar belakangi menurunnya semangat mahasiswa dalam hal pergerakan guna menciptakan solusi bangsa. Yaitu, berpalingnya dari esensial jati diri Mahasiswa,  Oreintasi terhadap dunia kerja yang berlebihan, dan keterpihakan terhadap orang-orang di birokrasi. Beberapa hal tersebut menjadi bagian-bagian partikular saja dari pada banyaknya persoalan lain yang jauh lebih besar.
Eksestensi mahasiswa merupakan sebuah sentrum harapan bagi bangsa Indonesia, Mahasiswa notabenenya sebagai kaum terpelajar jauh memiliki konsep pemikiran yang lebih dari pada wong cilik.  Namun, hal itu seolah menjadi kebohongan besar belaka ketika ribuan Mahsiswa yang di cetak menjadi sarjana tidak mampu memberikan perubahan besar bagi segala bentuk persoalan bangsa.Masih tingginya kesenjangan sosial di berbagai sektor terus merambat dari tahun ke tahuan , belum lagi persoalan pembangunan  yang jauh dari harapan kolektif bangsa Indonesia, mengungkap tabir Mahasiswa kekinian bukan berati merendahkan martabat mereka, hanya saja hal ini sebagai refleksiarah mahasiswa yang masih berada titik dilematis.
Berpalingnya Mahasiswa dari wujud Esensial-nya
Wujud esensial dalam hal ini, akan menggunakan pola pemikiran Hegel tentang konsep “dealektika” sebagai landasan teoritis dalam melihat spekulasi arah gerak mahasiswa, maka dari itu menjadi penting mengupas pemikiran Hegel tentang konsep dialektika, Dialektika pada dasarnya merupakan sebuah proses “perkembangan melalui langkah-langkah yang berlawanan”  (Suseno,61: 1999). Langkah-langkah berlawanan tersebut merupakan suatu pertentangan antara fakta obyektif dengan penilaian Rasio terhadap realitas, Rasio oleh hegel dianggab sebagai kekuataan mutlak dalam kerangka dialektis, orientasi dari rasio tersebut adalah mengaktualisasikan potensi-potensi yang rill dan yang mungkin. Maksudnya ,  di setiap kandungan fakta atau realitas terdapat suatu kondisi yang akan bertransformasi kedalam suatu bentuk baru sebagai realitas baru.Atau gampangnya , kandungan realitas yang ada menjadi benih bagi transformasi menuju bentuk baru, dan tranformasinya ini merupakan proses keniscayaan, dalam arti bahwa ia adalah satu-satunya cara di mana a contingent real (yang rii yang kontingen) menjadi aktual, (marcuse,123: 2004)[1]  adahal yang perlu ditekankan disini sebagai subtansi dari gagasan hegel, bahwa yang mampu menggerakkan tranformasi realitas adalah rasio manusia dengan kekuatan gagasan yang dimilikinya. Menggerakkan realitas adalah suatu keniscayaan rasio dengan kebebasan yang hidup diatasnya, karena tanpa kebebasan akan sangat sulit untuk mentranformasikan realitas menuju realitas baru.Itu sekilas dari pemamaran pemikiran hegel tentang dialektika, selanjutnya kitan akan mencari benang merah antara konsep dialektika dengan eksistensi Mahasiswa.
Akar sejarah gerakan mahasiswa akan menjadi penghubung antara konsep dialektika dan eksistensi Mahasiswa itu sendiri, mahasiswa sebagai agen penggerak tranformasi kultural akan menjadi bahasan penitng dalam hal ini, pada tahun 1925 Mahasiswa Hindia-Belanda yang belajar di negeri belanda memiliki inisiatif unutk mengadakan sebuah perkumpulan dan membahas tentang nasib pribumi agar terbebas dari belenggu penjajahan , berbagai gagasan di tuangkan oleh para pemuda saat itu dan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 tepatnya di Jakarta  lahirlah sumpah pemuda yang dipelopori oleh organisasi pemuda pada saat itu.[2]
Pada tahun 1965, Mahasiswa mampu membongkar benak zaman, mereka turun ke jalan dibawah satu kekuatan persatuan yang dikenal dengan istilah KAMI ( Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) proses gerakan mahasiswa pada saat itu mencapai puncaknya pada bulan juni 1966 , KAMI tersebar diseluruh penjuru tanah air yang dilandasi kesamaan cita-cita, hal itu tergambar jelas didalam rumusan konsep Tritura ( tri tuntutan rakyat) yang berisi tiga komponen penting yaitu bubarka PKI, rool kabinet Dwikora, dan turunkan harga barang.[3] Konstelasi politik Indonesia setelah fase soekarno bermula dari beralihnya kekuasaan ke tangan soeharto atas legetimasi supersemar[4], pada saat itu peran tentara mendapat ruang leluasa untuk menempati berbagai lini dibirokrasi pemerintahan hal tersebut dikenal dengan istilah Dwi fungsi ABRI, perlahan secara diam-diam pemerintah pada era soeharto membungkam gerakan mahasiswa dengan strategi menggait Aktivis mahasiswa ke beberapa parlemen. Namun,ada juga tetap berada diatas jalur rel perjuangan.
Tahun 1975, aliansi poltitk Mahasiswa dan militer sudah mulai mengalami berbagai macam gesakan yang dilatar belakangi sikap pemerintah mendukung banyaknya pemodal asing masuk ke Indonesia dan penekanana terhadap suara kritis rakyat atas dalih stabilitas poltik, kaum aktivis pergerakan mulai gelisah akan hal itu, disisi lain soeharto beserta para kroninya pada saat itu memang sukses dalam meningkatkan pembangunan ekonomi. hal itu, dapat dilihat perestsi soeharto yang Berhasil meningkatkan pertumbuhan pembangunan Indonesia dari minus 2,25 pada tahun 1963 menjadi naik tajam sebesar 12% pada tahun 1969 atau setahun setelah dirinya ditunjuk sebagai pejabat Presiden. Selama periode tahun 1967-1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat ditingkatkan dan dipertahankan rata-rata 7,2% pertahun. Namun pada saat terjadi krisis 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot atau minus hingga kisaran 13,13%.[5].Namun, dilain sisi yang bersebrangan Soeharto juga menyalahkan nilai Pancasila dan UUD 45, keadilan dikorbankan hanya atas dasar kepentingan politik praktis belaka, Soeharto disebut sebagai bapak pembangunan kerena ia berhasil melakukan tranformasi di berbgai sektor, gelar soeharto sebagai bapak pembangunan juga berimplikasi terhadap kemiskinan serta ketimpangan sosial, sehingga dia layak disebut sebagi bapak pembangun kemiskinan.
capture-20150612-200038
Sumber: akhmadsyahroni17.Wordpress.com[6]
Terdapatnya berbagai macam  peristiwa politik pragmatis di Era Soeharto ternyata memberikan stimulus mahasiswa untuk turun jalan, aksi besar-besaran dilakukan oleh mahasiswa untuk meruntuhkan tirani yang korup, meski sebagaian para aktivis hilang tanpa jejak namun semangat pantang mundur yang terus menggebu di dalam jiwa para mahasiswa terus berkobar, 1998 menjadi sakasi keberanian mahasiswa untuk melengserkan tirani yang tidak berprikemanusian.
Ulasan singkat tentang jejak rekam mahasiswa dalam gerakannya menciptakan realitas baru menjadi landasan pokok dalam mencari esensial peran mahasiswa, sudah barang tentu kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa zaman adalah dinamis dan dinamis merupakan wujud pasti dari teori dialektika, namun dialektika tidak akan berjalan tanpa adanya suatu gagasan rasional yang mampu menggerakkan realitas, gagasan rasional itu hidup didalam ego Individu yang memiliki kehendak bebas, dalam hal ini, ego Individu yang memiliki kehendak bebas adalah Mahasiwa yang menghendaki adanya suatu restorasi serta reformsi sistem pemerintahan yang ada di Indonesia. Maka, jelas sudah bahwa kita sudah menemukan titik cerah bahwa pada dasarnya esensi mahasiswa adalah Ego yang berkehendak bebas dalam mewujudkan “kemungkinan” dalam realitas “yang ada” menjadi realitas aktual riil, dan perwujudan tersebut hanya bisa dilalui proses dialektika pergerakan.
Reformasi menjadi sebuah sarang Aporia  bagi mahasiswa, mereka seolah kehilangan nyali dalam dunia gerakan, sedangkan masa yang berada  dalam proses konsolidasi kultural banyak mengalami berbgai hal yang patut diperhatikan, seperti kasus minimnya ketegasan hukum yang ada di negara Indonesia, maraknya korupsi ditataran daerah akibat kebijakan Desentralisasi, penggusuran lahan secara paksa, dan masih banyak lainnya yang tidak bisa di sebutkan satu persatu. Jika keadaan gerakan mahasiswa di era ini mengalami penurunan dalam menyikapi isu-isu sosial-politk maka kita harus tau perihal yang melatar belakanginya, dari berbagai hasil observasi di bangku-bangku diskusi baik yang sifat nya formal akademik (meja kuliah) atau pun non formal akademik seperti diwarung kopi, terdapat beberapa hal yang menjadi titik perhatian, yaitu Orientasi dunia kerja yang berlebihan dan banyaknya kerja sama dengan para elit politik.
Orientasi terhadap kerja yang menjamur di benak Mahasiswa menjadi suatu permasalahan besar. Mereka kuliah bukan lagi mencari jati diri sebagai inteltual yang akan berperan sebagai Agent sosial, akan tetapi lebih mengarah pada nilai pragmastis dari legislasi gelar yang diperoleh selama kurang lebih 4 tahun, pergeseran paradigma mahsiswa ini akan menjauhkan diri mereka dari sifat esensialnya. Indivudalisme tidak bisa dihindari dari sifat Mahasiswa demikian, mereka akan terasing dari rasa peduli terhadap nasib rakyatnya  yang masih  banyak membutuhkan peran Mahasiswa. Pindidikan Universitas yang seharusnya mencetak kader-lader intelektual yang peka terhadap konstelasi sosial tetapi justru mencetak kader yang beroreintasi pada dunia kerja dan menjauhkan dari peran mereka sebagai penggerak revolusi sistem.
Kerjasama dengan para elit politik.Tidak selamnaya aktivis  itu akan selalu berjalan lurus sesuai dengan keteguhan idealisme yang mereka asah , justru terkadanga mereka akan mengalami pembelokan arah pemikiran , yang awalnya hingar bingar menghantam para elit pemerintah denganberbagai tuntutan. Namun setelahnya, mereka menghianati kemurnian perjuangan yang mereka lakukan. Orde baru menjadi sejarah yang memberikan bukti bahwa kalangan aktivis banyak yang menempati kusrsi mentri dan bekerja sama dengan para elit politik pada saat itu. Fadhlizon adalah salah satu Aktivis yang lantang menentang soeharto pada era Orba. Namun , saat ini dia menjadi manufer koalisi partai KMP (Koalisi Merah Putih) yang lahir dari rahim Orba[7].keadaan tersebut akan menjadi serangan balik bagi mahasiswa yang awalnya dipercaya sebagai pengontrol sistem pemerintahan justru akan jatuh menjadi oknum yang merusak sistem. Dua faktor tersebut merupakan sebagian kecil dari kompleksnya permaslahan yang ada di kalangan mahasiswa.
Sunyoto dalam tulisanya tentang Gerakan Mahasiswa mentipologikan gerakan moral ataukah gerakan politk. Dalam gerakan moral sunyoto menyampaikan optimisme tentang gerakan mahasiwa yang mampu mengubah Atmosfer politik nasional. Namun dalam logika gerakan politik sunyoto seolah-olah pesimis dengan peran mahasiswa yang menempati kursi jabatan mentri. Kekhawitiran sunyoto dalam pandang poltik pragmastis memang dapat di benarkan , hal ini, dapat dilihat dari banyaknya prilaku poltik pragmatis para politikus. Kemaslahatan umat bukan lagi persoalan yang harus diselesaikan akan tetapi mereka jauh mengedepankan kepentingan kelompok belaka.
Gerakan moral dan gerakan politik harus mampu di integrasikan dengan pola kontroling yang berdiaspora secara menyeluruh, gerakan moral adalah sumber dari kemurnian perjuangan mahasiswa sementara gerakan politik adalah jalan bagi mereka memperjuangkan gerakan di tataran struktural. Namun, peran mereka tetap harus berada di luar ruang pragmatis, mereka harus tetap dalam khittahnya sebagai pengontrol jalannya roda tranformasi sistem birokrasi. Di tangan mahasiswa revolusi selalu dinantikan, di tangan mereka pula masa depan bangsa ditentukan, konsolidasi demokrasi tidak akan berjalan baik apabila mahasiswa memilih diam dari pada harus turun menghantam kelicikan para kaum Birokrasi.
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sosiologi 2013
Syaiful Anam
[1] Disarankan untuk membaca Rasio dan Revolusi karya Herbert Marcuse.
[2]Organisasi yang ikut aktif  dalam gerakan tersebut diantaranya PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) juga dari jong java , Jong Soematra Bond, Jong Celebes, dan lain sebagainya.sumber diambil dari www.beritakotametro.co.id/news/read/2406/sejarah-lahirnya-sumpah-pemuda-28-oktober-1928/, diakses pada jam 02:15, tanggal 12-09-2015
[3]Sunyoto usman, 1999,jurnal ilmu sosial dan ilmu politik,  Arah gerakan Mahasiswa Gerakan poltitik ataukah gerakan moral, Vol 13, No 2.
[4]Meskipun sampai saat ini belum ada kepastian tentang isi sebenarnya supersemar, tapi setidaknya sejarah telah menyampaikan pada kita bahwa berahlinya kekuasaan Presiden RI pertama ke Soeharto atas dasar Super semar.
[7]Terutama dua partai besar , GERINDRA dan GOLKAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar