Rabu, 26 Agustus 2015

Sang Maestro Yang Nyaris Terlupakan

.Zamroni-Tokoh-Gerakan-Yang-Inspiratif
Sumber foto : http://www.pmii.or.id  
Zamroni mampu memimpin organisasi kemahasiswaan yang banyak dipenuhi anak muda NU ini berdiri sejajar dengan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan lain yang telah lebih dahulu eksis belasan bahkan puluhan tahun sebelumnya, seperti HMI, PMKRI, GMNI dan sebagainya. Terpilihnya sahabat Zamroni sebagai Ketua Presidium Pusat KAMI-pun merupakan pengakuan ketokohan seorang Zamroni dan tentu saja bagi eksistensi PMII pada pentas nasional gerakan mahasiswa di Usia PMII yang masih belia.
Dibalik gegap-gempita panggung gerakan mahasiswa dan politik nasional, diawal tumbangnya Orde Lama dan tumbuhnya Orde baru, pernyataan politik, wajah dan foto seorang pemuda sekaligus aktifis yang banyak menghiasi media cetak dan TVRI. Pemuda tersebut bernama Zamroni. Muncul sebuh pertanyaan dalam benak khalayak pada saat itu. saiapakah zamroni? Mengapa foto beliau banyak menghiasi pemberitaan media nasional pada saat itu?
Sosok Zamroni tak banyak diketahui oleh khalayak umum, padahal beliau merupakan tokoh inspiratif dan memotivasi bagai kaum muda saat ini yang mulai kebingungan arah gerakanya dalam mengawal demokratisasi di Indonesia. Sahabat Zamroni di percayai menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) pada periode 1967-1970 setelah kepemimpinan sahabat Mahbub Djunaidi. Sahabat zamroni menjadi ketua umum PB PMII di masa-masa yang sangat krusial. Tepatnya di era berakhirnya rezim orde lama. banyak khalayak yang tidak mengetahui bahwa ia merupakan salah satu motor penggerak pada gerakan mahasiswa angkatan 66’ .
Sahabat Zamroni lahir di kudus/Jepara Jawa Tengah tanggal 10 Agustus 1935. besar dilingkungan Nahdliyin menjadikan beliau seseorang yang memilliki Keteguhan sikap, idealisme, dan kesederhanaan sebagai tokoh. visi kebangsaan, inklusifitas dan pluralis-nya almarhum telah menjadi salah satu sumber semangat dan sebuah bangunan teladan bagi kita generasi penerus bangsa pada umumnya dan kader-kader PMII pada khususnya dalam melakukan pergerakan kritisisme dan demokratisasi di Indonesia. Pasalnya selain sahabat Mahbub Djunaidi almarhum Zamroni merupakan sang maestro yang menjadi tonggak kebangkitan anak muda NU dalam panggung sejarah aktifis dan politik Indonesia. Karena generasi mereka inilah yang seolah menjadi prolog mata rantai lahirnya generasi cemerlang NU seperti Abdurrahman Wahid, Fahmi D. Syaifuddin, Slamet Effendy Yusuf, Masdar F. Mas‟udi, dan seterusnya. beliu menjadi tokoh sentral aktifis mahasiswa pada angkatan 1966 yang berani berdiri terdepan untuk menggulingkan kekuasaan Orde Lama sekaligus salah satu peletak berdirinya Orde Baru dari kalangan mahasiwa.
Peranya sebagai Ketua Umum PBPMII pun tak perlu diragukan lagi. Bayangkan saja, ketika itu PMII masih berusia sangat belia sejak kelahirannya di Surabaya pada Tanggal 17 April tahun 1960. Namun, Zamroni mampu memimpin organisasi kemahasiswaan yang banyak dipenuhi anak muda NU ini berdiri sejajar dengan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan lain yang telah lebih dahulu eksis belasan bahkan puluhan tahun sebelumnya, seperti HMI, PMKRI, GMNI dan sebagainya. Terpilihnya sahabat Zamroni sebagai Ketua Presidium Pusat KAMI-pun merupakan pengakuan ketokohan seorang Zamroni dan tentu saja bagi eksistensi PMII pada pentas nasional gerakan mahasiswa di Usia PMII yang masih belia.
Kemampuan kepemimpinan dan jiwa mengayomi kepada anak buahnya telah diakui oleh seluruh elemen. Hal itu dapat diukur oleh keberhasilan sahabat Zamroni ketika memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pusat mulai pertama dibentuk hingga dibubarkan. KAMI sendiri menjadi motor penggerak mahasiswa yang bertujuan untuuk merobohkan rezim orde lama yang pada saat dipimpin oleh Ir.Soekarno yang memakai sistem demokrasi terpimpin. Meski anggotaanya terdiri dari lintas agama, kultur, etnis dan haluan politik yang berbeda-beda, jiwa moderat, toleran dan seimbang, serta professional telah melekat kepadanya. Sebagaimana ajaran ahlussunnah wal jamaah yang ia yakini.
Sehingga julukan sebagai maestro patut diberikan kepada sahabat Zamroni, di mana selain menjadi ketua umum PBPMII dan KAMI yang mampu merobohkan kekuasaan orde lama, beliau juga telah membuktikan dengan keberaniannya mempelopori ke-independensi-an PMII dari organisasi manapun termasuk NU (nahdlatul ulama’) yang menjadi ibu kandung PMII, serta menjadikan Pancasila sebagai pengikat perjuangan PMII, bahkan jauh-jauh hari sebelum NU menyatakan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang sudah final dan tidak perlu diotak-atik lagi.
Sikap keras sahabat zamroni beserta sahabat-sahabat PMII lainya pada waktu itu memang berakibat pada munculnya kemarahan dari pimpinan NU dari tingkatan PB hingga tingakatan daerah, namun sikap tersebutlah yang pada akhirnya menyadarkan NU – yang pada saat itu masih menjadi partai – akan pentingnya ke-independensi-an PMII bagi mahasiswa nahdliyin, karena jika langkah independensi tersebut tidak dilakukan oleh sahabat Zamroni, maka PMII yang pada saat itu menjadi sayap politik NU (Nahdlatul Ulama) akan turut dimusnahkan oleh rezim orde baru yang dikenal otoritarian terhadap lawan politiknya.
Hal tersebut terus berlanjut ketika beliau telah lulus dari jenjang pendidikan, tepatnya beliau sudah menjadi politisi di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Walaupun rekam jejaknya sudah malang melintang di kancah politik nasional. Beliau tidak pernah melupakan kultur Aswaja yang menjadi kerangka berfikir dan bertindak. di mana beliau tetap konsisten dalam menentang rezim pemerintahan yang otoriter. Hingga beliau di singkirkan dari MPR/DPR karena perjuangannya dalam membela aktifis NU ketika orang-orang NU disingkirkan dari tubuh PPP oleh soeharto.
Berbagai kisah dan catatan sejarah lainnya yang pernah saya baca tentang almarhum salah satunya juga menceritakan tentang kepiawaiannya dalam berorasi menggerakkan massa. Ibarat panglima perang yang memimpin puluhan ribu pasukan yang pantang menyerah dan putus asa sebelum panji keadilan di tegakkan. Hal itu terlihat dengan suksesi beliau dalam memimpin dua organisasi besar di Indonesia, yaitu organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Keterampilan berorasi ini merupakan keahlian yang sampai sekarang tidak begitu banyak tandingannya. Namun, yang paling penting dicatat di sini adalah konsistensinya pada perjuanganya melawan rezim otoritariansime yang tidak memihak kepada rakyat indonesia. Sikap sahabat Zamroni tersebut menjadi sebuah refleksi bagi kaum muda zaman sekarang, di mana para pemuda yang mengaku sebagai generesai penerus bangsa yang dituntut untuk memberi perubahan yang nyata, justru malah asyik dengan dunia yang tak berguna. Bukan hanya itu, hedonism, apatis hingga kesombongan yang diiringi dengan kebohongan, serta pengejar materi jangka pendek adalah realitas mahasiswa saat ini. Oleh sebab sikap dan kesederhanaan almarhum sahabat Zamroni merupakan cerminan bagi kita semua sebagai mahasiswa yang gandrung akan keadilan.
Berikut biografi seorang Zamroni :
Nama ​​​: Drs. Muhammad Zamroni bin Sarkowi
Lahir ​: kudus/jepara jawa tengah tanggal 10 agustus 1935
Riwayat Pendidikan : SD Muhammadiyah Kudus (1948), SMP Negeri Kudus (1951), SGHA Yogyakarta (1955), IAIN Jurusan Pendidikan, Jakarta (1969), Pesantren Balai Pertengahan Kudus, Pesantren Jamsaren Solo, Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di Kudus dan Solo.
Karir ​: Guru Ilmu Pasti, Agama dan Olah Raga PGAN Magelang (1955-1958), Asisten Sastra Arab IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta (1963-1965), Penata Madya Pegawai Departemen Agama (1965-1967), Ketua Umum PB PMII periode (1967-1970 dan 1970-1973), Ketua Umum KAMI Pusat (awal berdiri hingga pembubaran), DPR GR/MPRS (1967-1971), DPR/MPR RI (1971-1977 dan 1977-1983), Ketua Komisi I DPR RI (1983-1987), penandatanganan Deklarasi KNPI (1973), Ketua I DPP PPP (Periode Naro), dan wakil sekjen PB NU (Periode Idham Chalid).
Wafat ​: Drs. HM. Zamroni bin Sarkowi Meninggal pada jam 03.00 wib senin tanggal 5 februari 1996, di RS Fatmawati Jakarta selatan karena struk dan sesak pernafasan yang diderita sejak lama.
Makam ​​: Pemakaman Khusus Tanah Kusir Jakarta.
Penulis Adalah mahasiswa ilmu politik
KHUSNUL WAFIQ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tambahkan Komentar